Selasa, 22 Mei 2018

NUANSA EROTISME DI CANDI SUKUH

Oleh:
Enang Cuhendi

Perjalanan menyusuri jalur Tawangmangu – Sarangan membawa penulis untuk mengunjungi objek wisata Candi Sukuh. Candi Sukuh yang kami ketahui memiliki bentuk yang cukup unik dan berbeda dengan peninggalan situs-situs candi lain di Indonesia. Keberadaan candi ini masih menyimpan misteri karena belum diketahui secara pasti tahun pembangunannya dan sering dikait-kaitkan dengan bangunan kuno yang ditemukan di Semenajung Yucatan, Amerika.

Situs candi Sukuh dilaporkan pertama kali pada masa pemerintahan Britania Raya di tanah Jawa pada tahun 1815 oleh Johnson, Residen Surakarta. Johnson kala itu mendapat tugas dari Thomas Stanford Raffles untuk mengumpulkan data-data guna menulis bukunya The History of Java. Setelah masa pemerintahan Britania Raya berlalu, pada tahun 1842, Van der Vlis, arkeolog Belanda, melakukan penelitian. Pemugaran pertama dimulai pada tahun 1928. Sejak tahun 1995 Candi Sukuh telah diusulkan ke UNESCO untuk menjadi salah satu situs warisan dunia.

Candi Sukuh adalah sebuah kompleks candi agama Hindu yang secara administrasi terletak di wilayah Dukuh Sukuh, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Lokasi Candi Sukuh terletak di lereng kaki Gunung Lawu pada ketinggian kurang lebih 1.186 meter di atas permukaan laut pada koordinat 07o37, 38’ 85’’ Lintang Selatan dan 111o07, 52’65’’ Bujur Barat. Candi ini berjarak kurang lebih 20 kilometer dari kota Karanganyar dan 36 kilometer dari Surakarta.

Lokasi Candi Sukuh berada di sebuah bukit yang cukup tinggi sehingga kami harus berulang kali melewati jalanan yang menanjak. Bus yang kami bawa tidak bisa masuk lokasi karena jalur yang sempit dan curam. Untungnya sisa perjalanan yang tinggal 5 Km bisa kami selesaikan dengan menumpang kendaraan umum yang biasa dipakai warga. Ketika tiba di objek wisata Candi Sukuh suasana candi tampak sepi, hanya terlihat beberapa wisatawan mancanegara yang berkunjung ke objek wisata ini. Kabut gunung yang tadinya menyambut kami saat tiba di objek wisata Candi Sukuh berangsur-angsur menghilang ketika kami berjalan menuju ke salah satu bangunan Candi Sukuh yang berada dekat dengan jalan masuk. Dengan berbekal buku kecil yang kami beli di dekat pos jaga, kami mencoba menelusuri informasi yang ada dalam katalog Candi Sukuh tersebut.

Bangunan Candi Sukuh memberikan kesan kesederhanaan yang mencolok pada para pengunjung. Kesan yang didapat dari candi ini sungguh berbeda dengan candi-candi besar di Jawa Tengah lainnya, seperti Candi Borobudur atau Candi Prambanan. Bentuk bangunan candi Sukuh cenderung mirip dengan peninggalan budaya Maya di Meksiko atau peninggalan budaya Inca di Peru. Struktur ini juga mengingatkan para pengunjung akan bentuk-bentuk piramida di Mesir. Batuan yang dipakai untuk membangun candi berasal dari batuan andesit sehingga candi ini seperti berwarna agak kemerahan,

Kesan kesederhanaan bangunan Candi Sukuh pernah menarik perhatian arkeolog termashyur Belanda seperti W.F. Stutterheim, pada tahun 1930. Ia mencoba menjelaskan alasan kenapa bangunan candi ini terkesan sederhana dengan memberikan tiga argumen. Pertama, kemungkinan pemahat Candi Sukuh bukan seorang tukang batu melainkan tukang kayu dari desa dan bukan dari kalangan pemahat keraton. Kedua, candi dibuat dengan agak tergesa-gesa sehingga kurang rapi. Ketiga, keadaan politik kala itu dengan menjelang keruntuhan Majapahit, tidak memungkinkan untuk membuat candi yang besar dan megah.

Sebagaimana disinggung di atas bahwa candi Sukuh dikategorikan sebagai candi Hindu. Hal ini karena ditemukannya objek pemujaan berupa lingga dan yoni. Hampir semua candi-candi Jawa yang bernafaskan teologi mempunyai lambang tersebut.  Simbol lingga dan yoni dapat dimaknai proses penyatuan antara bhuana alit (mikrokosmos) dan bhuana agung (makrokosmos). Dalam mitologi Hindu disebut Purusa-Pradana melambangkan Bhatara Siwa dan Bhatari Durga. Penunggalan lingga dan yoni dalam Candi Sukuh dimaksudkan sebagai upaya mencapai keseimbangan antara mikro dan makro secara universal. Dalam tradisi Jawa Kuno diyakini bahwa lambang lingga dan yoni mengandung makna bahwa manusia ada akibat persetubuhan lingga (penis) dan yoni (vagina). Di sisi lain, keberadaan kekuatan tantrayana (lingga dan yoni) juga dimaksud untuk menghalau roh-roh jahat dan makhluk halus.

Hal yang dianggap kontroversial dari Candi Sukuh selain karena bentuknya yang kurang lazim juga karena adanya penggambaran alat-alat kelamin manusia secara eksplisit pada beberapa figurnya. Beberapa patung dan relief secara jelas menunjukkan bagaimana bentuk  lingga atau alat kelamin laki-laki secara vulgar bahkan dalam bentuk adegan persetubuhan. Hal ini di antaranya terlihat jelas pada patung laki-laki telanjang tanpa kepala yang terdapat di sebelah kanan bangunan utama dan pada relief di atas tanah sepanjang 2,5 meter sebelum masuk candi utama. Patung persetubuhan terdapat tepat di depan gapura bangunan utama.

Sedangkan untuk lambang alat kelamin perempuan terlihat di ornamen seperti tapal kuda pada menara seperti obelisk atau tiang segi empat meruncing berbentuk piramida. Relief ini berkaitan dengan falsafah sangkan paraning dumadi. Ornamen tersebut diawali dengan lukisan semacam kepala menjangan dari kanan bawah ke atas dan kemudian menurun lagi melewati tiga kepala yang di bagian kanan dan kirinya tidak sama besarnya. Ada anggapan bahwa bentuk tapak kuda tersebut menggambarkan organ seksual atau rahim perempuan sebagai rumah janin atau bakal manusia. Kala-kala dianggap sebagi hakim yang akan menentukan baik buruknya sifat manusia dalam rahim dengan melihat asal muasal terjadinya perubahan apakah melalui kama (sperma) yang keluar dari kanan atau kiri. Ornamen naga berkepala namun tidak berekor banyak yang mengasosiasikandengan selaput dara atau hymen.



Struktur Bangunan

Untuk mengetahui keadaan struktur bangunan Candi Sukuh kita perlu  untuk memahami mitologi Hindu. Dalam Hindu dikenal adanya Tri Mandala atau tiga wilayah atau ruang, yaitu nista mandala (njaba), madya mandala (njaba tengah) dan utama mandala (njeroan). Ketiga mandala ini menggambarkan konsep susunan kehidupan manusia dalam menyikapi kehidupan di dunia dari dia lahir, hidup dan mati (satria, raja, brahmana). Struktur bangunan Candi Sukuh mengacu pada Tri Mandala ini.

Di Area Candi Sukuh  terdapat tiga gapura dan tiga teras. Secara umum, desain bangunan Candi Sukuh masih menganut struktur punden berundak yang ditemukan pada zaman megalithikum karena gapura dan teras dibangun secara bertingkat. Kami memulai dengan menginjakkan kami di teras pertama di bagian depan terdapat gapura utama yang masih utuh atau area nista mandala. Jalan di bagian tengah gapura dibangun sebuah pintu dan dikunci. Mungkin wisatawan dilarang melewati tengah gapura ini karena kondisi bangunan gapura sudah labil dan rawan runtuh. Pengunjung dipersilakan melihat bangunan gapura dari depan dengan melewati jalan kecil yang dibuat lewat samping gapura. Bentuk gapura cukup unik mengingat posisinya tidak tegak lurus namun miring seperti model trapesium dengan atap diatasnya.


Para pengunjung yang memasuki pintu utama lalu memasuki gapura terbesar akan melihat bentuk arsitektur khas bahwa ini tidak disusun tegak lurus namun agak miring, berbentuk trapesium dengan atap di atasnya. Pada gapura ini ada sebuah sengkala memet dalam bahasa Jawa  yang berbunyi gapura buta aban wong ("raksasa gapura memangsa manusia"), yang masing-masing memiliki makna 9, 5, 3, dan 1. Jika dibalik maka didapatkan tahun 1359 (Saka) (1437 Masehi). Angka tahun ini sering dianggap sebagai tahun berdirinya candi ini, meskipun lebih mungkin adalah tahun selesainya dibangun gapura ini. Di sisi sebelahnya juga terdapat relief sengkala memet berwujud gajah bersorban yang menggigit ekor ular. Ini dianggap melambangkan bunyi gapura buta anahut buntut ("raksasa gapura menggigit ekor"), yang juga dapat ditafsirkan sebagai 1359 Saka. Berdasarkan relief dan ukiran huruf-huruf di bagian gapura candi yang berbunyi “Gapuro Bhuto Angintal Jalmo” (seorang raksasa memangsa manusia) dapat diketahui candrasengkala pendirian candi tahun 1359 Saka atau 1437 M.

Pada dinding gapura sebelah utara dan selatan terdapat ukiran seekor burung garuda dengan sayap terbuka sedang mencengkram dua ekor naga. Lalu pada bagian kanan terdapat dua buah patung Garuda yang merupakan bagian dari cerita pencarian tirta amerta (air kehidupan) yang terdapat dalam kitab Adiparwa, kitab pertama Mahabharata. Pada bagian ekor sang Garuda terdapat sebuah inskripsi (tatahan tulisan) berbunyi lawase rajeg wesi duk pinerp kapeteg dene wong medang ki hempu rama karubuh alabuh geni harbut bumi kacaritane babajang mara mari setra hanang tang bangomenurut bacaan Darmosoetopo (1984). Pada intinya inskripsi ini merupakan suryasengkala yang melambangkan tahun 1363 Saka (1441 M).

Kemudian sebagai bagian dari kisah pencarian amerta tersebut di bagian ini terdapat pula tiga patung kura-kura yang melambangkan bumi dan penjelmaan Dewa Wisnu. Bentuk kura-kura ini menyerupai meja dan ada kemungkinan memang didesain sebagai tempat menaruh sesajian. Sebuah piramida yang puncaknya terpotong melambangkan Gunung Mandaragiri yang diambil puncaknya untuk mengaduk-aduk lautan mencari tirta amerta.

Gapura pada teras kedua sudah rusak. Di kanan dan kiri gapura terdapat patung penjaga pintu atau dwarapala yang biasa ada, namun dalam keadaan rusak dan sudah tidak jelas bentuknya lagi. Gapura sudah tidak beratap dan pada teras ini tidak terdapat banyak patung-patung. Pada gapura ini terdapat sebuah candrasangkala dalam bahasa Jawa yang berbunyi gajah wiku anahut buntut yang berarti “Gajah pendeta menggigit ekor” dalam bahasa Indonesia. Kata-kata ini memiliki makna 8, 7, 3, dan 1. Jika dibalik maka didapatkan tahun 1378 Saka atau tahun 1456 Masehi.

Memasuki teras ketiga, gapura ketiga kondisinya sama dengan gapura kedua yang sudah tidak utuh lagi. Pada teras ketiga ini terdapat pelataran besar dengan candi induk dan beberapa relief di sebelah kiri serta patung-patung di sebelah kanan. Bila dibandingkan dengan candi-candi yang lain, bentuknya sangat berbeda dan memiliki keunikan. Terdapat beberapa simbol sex yang tidak terdapat di candi-candi yang lain. beberapa patung dan arca menggambarkan Lingga sebagai perwujudan kemaluan pria dan Yoni sebagai perwujudan kemaluan wanita. Candi induk yang mirip dengan bentuk vagina ini, menurut beberapa pakar memang dibuat untuk mengetes keperawanan para gadis. Menurut cerita, jika seorang gadis yang masih perawan mendakinya, maka selaput daranya akan robek dan berdarah. Namun apabila ia tidak perawan lagi, maka ketika melangkahi batu undak ini, kain yang dipakainya akan robek dan terlepas.

Tepat di atas candi utama di bagian tengah terdapat sebuah bujur sangkar yang kelihatannya merupakan tempat menaruh sesajian. Di sini terdapat bekas-bekas kemenyan, dupa dan hio yang dibakar. Hal ini menunjukkan bahwa candi ini masih sering dipergunakan untuk bersembahyang.

Pada bagian kiri candi induk terdapat serangkaian panel dengan relief yang menceritakan mitologi utama Candi Sukuh, Kidung Sudamala. Urutan reliefnya adalah sebagai berikut. Panel pertama, di bagian kiri dilukiskan sang Sahadewa atau Sadewa, saudara kembar Nakula dan merupakan yang termuda dari para Pandawa Lima. Kedua-duanya adalah putra Prabu Pandu dari Dewi Madrim, istrinya yang kedua. Madrim meninggal dunia ketika Nakula dan Sadewa masih kecil dan keduanya diasuh oleh Dewi Kunti, istri utama Pandu. Dewi Kunti lalu mengasuh mereka bersama ketiga anaknya dari Pandu: Yudhistira, Bima dan Arjuna. Relief ini menggambarkan Sadewa yang sedang berjongkok dan diikuti oleh seorang punakawanatau pengiring. Berhadapan dengan Sadewa terlihatlah seorang tokoh wanita yaitu Dewi Durga yang juga disertai seorang punakawan.

Panel kedua, pada relief kedua ini dipahat gambar Dewi Durga yang telah berubah menjadi seorang raksasi (raksasa wanita) yang berwajah mengerikan. Dua orang raksasa mengerikan; Kalantaka dan Kalañjaya menyertai Batari Durga yang sedang murka dan mengancam akan membunuh Sadewa. Kalantaka dan Kalañjaya adalah jelmaan bidadara yang dikutuk karena tidak menghormati Dewa sehingga harus terlahir sebagai para raksasa berwajah buruk. Sadewa terikat pada sebuah pohon dan diancam dibunuh dengan pedang karena tidak mau membebaskan Durga. Di belakangnya terlihat antara lain ada Semar. Terlihat wujud hantu yang melayang-layang dan di atas pohon sebelah kanan ada dua ekor burung hantu. Lukisan mengerikan ini kelihatannya ini merupakan lukisan di hutan Setra Gandamayu (Gandamayit) tempat pembuangan para dewa yang diusir dari sorga karena pelanggaran.

Panel ketiga, pada bagian ini digambarkan bagaimana Sadewa bersama punakawannya, Semar berhadapan dengan pertapa buta bernama Tambrapetra dan putrinya Ni Padapa di pertapaan Prangalas. Sadewa akan menyembuhkannya dari kebutaannya.

Panel keempat, adegan di sebuah taman indah memperlihatkan sang Sadewa sedang bercengkerama dengan Tambrapetra dan putrinya Ni Padapa serta seorang punakawan di pertapaan Prangalas. Tambrapetra berterima kasih dan memberikan putrinya kepada Sadewa untuk dinikahinya.

Adegan panel kelima, panel ini menggambarkan adegan adu kekuatan antara Bima dan kedua raksasa Kalantaka dan Kalañjaya. Relief hanya menunjukkan salah satu dari kedua raksasa. Bima dengan kekuatannya yang luar biasa sedang mengangkat raksasa tersebut untuk dibunuh dengan kuku pañcanakanya. Inskripsi bertulisan aksara Kawi berbahasa Jawa Kuno, berbunyi padamel rikang buku[r] tirta sunya, yang merupakan sengkalan berarti 1361 Saka (1439 M).

Di sekitar candi juga ditemukan beberapa patung. Selain garuda. masih ditemukan pula beberapa patung hewan berbentuk kura-kura raksasa, celeng (babi hutan) dan gajah berpelana. Pada zaman dahulu para ksatria dan kaum bangsawan berwahana gajah.

Kemudian ada sebuah bangunan kecil di depan candi utama yang disebut candi pewara. Di bagian tengahnya, bangunan ini berlubang dan terdapat patung kecil tanpa kepala. Patung ini oleh beberapa kalangan masih dikeramatkan sebab seringkali diberi sesajian.





Candi Sukuh masih berdiri megah.  Nuansa erotisme menjadi sebuah misteri yang sampai sekarang belum terungkap, apa maksud di balik itu semua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KOLOM kOMENTAR

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.