Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Oktober 2020

Ayat-ayat Sumpah


Oleh Enang Cuhendi


Sahabat,

Masih lekat dalam ingatan

Kala rangkaian ayat-ayat sumpah 

meluncur nyaring dari kerongkongan kering

Yang dahaga akan tetesan air sejuk persatuan

Yang lapar dengan segenggam rasa kebersamaan

Larik janji yang membawamu menyatukan tekad diri

Untuk berpadu dalam keberagaman

Bersatu dalam kebinekaan

Butir-butir ikrar untuk bangkit membangun asa, 

bersama-sama menguatkan rasa

Rangkaian akad yang kuat bertekad menyatukan satu itikad

Janji beraksi dalam satu visi misi dan orientasi

Dari mereka putra-putri mandiri

Yang menyatukan nusa, bangsa dan bahasa, Indonesia



Kini,

Apakah engkau sudah lupa dengan ayat-ayat sumpah itu

Seperti seringnya dirimu melupakan Ayat-ayat Suci dari Tuhanmu

Mungkin kah ikrar itu telah buyar

hingga membawa egomu semakin liar 

Barangkali akad itu telah terlupakan

sampai persatuan dan kesatuan pun tersisihkan

Bisa jadi janji-janji itu telah luntur

Hingga tuturmu pun semakin ngelantur 

Atau mungkin prasetia itu telah jadi ayat-ayat amnesia

Yang melenakanmu demi ambisi pribadi dan sekelompok manusia

Melupakan tentang siapa dirimu dan apa bangsamu

Andai kau telah lupa, kini kuingatkan lagi

Akan ayat-ayat sumpah yang pernah terpatri dari anak negeri

Bukan ayat-ayat amnesia yang harus dihindari karena bisa disentri


Kawanku, 

Kuingatkan kau akan ayat-ayat sumpah saat dulu masih dijajah

Saat kita dahaga kebersamaan 

Waktu kita lapar akan persatuan

Ayat-ayat yang pernah menyatukan kita jadi satu kesatuan

Ayat penegak tekad dalam satu itikad

Semoga kau tak amnesia, kawan




Cicalengka, Malam Jelang Sumpah Pemuda 2020

Senin, 08 Oktober 2018

DI UJUNG SENJA



Termenung di ujung senja
Di atas singgasana sang penguasa
Tatap hampa melukis rona
Gelap gulita membungkam rasa
Kristal bening pun tumpah tanpa terasa

Termenung di ujung senja
Khayalku terbang menembus batas cakrawala
Teringat akan keangkuhan diri
Tatkala lisan masih lantang
Aku tertidur lelap dalam buaian sang waktu

Termenung di ujung senja
Menanti sesuatu yang sudah pasti
Asa melambung menuju puncak nan tinggi
Akankah itu masih Kau beri
Mungkinkah roda waktu dapat ku putar kembali

Duhai Sang Penguasa Masa
Ku pinta amnesti yang belum pasti
Ku mohon ampunan yang mungkin masih kau beri
Mengingat aku telah sampai di ujung senja

Ruang Kelasku, 11 September 2017
Enang Cuhendi   

Minggu, 20 Mei 2018

Rindu Nge-blog lagi

Assalamualaikum dan selamat menjalankan ibadah shaum!

Ada rasa rindu menyeruak tatkala ingat laman blog ini. Sudah terlalu lama rasanya tidak singgah untuk sekedar membuat coretan di sini. Berbagai kesibukan memang telah menyita waktuku. Selama ini coretan-coretanku  hanya ditulis di  media lain, baik buku maupun majalah.

Mulai saat ini saya bertekad untuk kembali mengaktifkan blog ini. Mumpung semangat menulis sedang tinggi-tingginya. Ya itung-itung bikin resolusi baru di awal Ramadhan 1439 H ini, tapi ga akan janji takut tidak terpenuhi dan jadi dosa.

Sebagai langkah awal saya coba ramaikan blog ini dengan mengunggah beberapa tulisan yang selama ini hanya tersimpan di file-file yang ada di laptop. Anggap saja upaya menyimpan file-file yang berserakan. Semoga bermanfaat!


Jumat, 17 Agustus 2012

Coretan di Ultah ke-67 Negeri Ini

67 tahun sudah negeri ini merdeka
Sederet prestasi memang pernah di raih,
Tapi, sederet bahkan seabrek masalah dan kegagalan muncul makin menjadi
Masih banyak harapan yang belum jadi kenyataan
Ketidak adilan, ketidakjujuran, pelanggaran hukum & Ham, penindasan dan korupsi  masih dominan di negeri ini
Kesengsaran, kemelaratan, biaya pendidikan dan kesehatan yang mahal masih menjadi PR yang belum terselesaikan
Prestasi olah raga yang jeblok,  keributan bernuansa SARA, kepemimpinan yang lemah belum mampu diatasi
Ahh, kalau di data semua mungkin akan menghabiskan berlembar-lembar kertas
Biarlah semua berjalan secara natural,
Biarlah semua menjadi bahan pemikiran bagi para pemimpin yang masih mau berpikir
Biarlah semua menjadi bahan diskusi para elit berdasi yang ada di negeri ini
Kita hanya berdo'a dan berharap
Semoga Allah SWT masih mengampuni dan menyayangi kita
Semoga DIA memberikan limpahan kekuatan tuk  tetap bisa tabah dan sabar melihat dan menjalani hidup di negeri ini
Dirgahayu Negeri ku, right or wrong you still my country ..... INDONESIA 

Rabu, 19 Oktober 2011

Sajak Kecil Buat Guru dan Kurikulum

Guru dan kurikulum adalah bagian yang seakan tak terpisahkan. Keseharian kerja guru senantiasa berkaitan dengan upaya mengejar target kurikulum. Kalau target tersebut tidak tercapai rasanya seperti ada "dosa besar" yang telah diperbuat. Pertanyaannya, apakah aktivitas guru yang berupaya mengejar target kurikulum itu salah? Jawabannya tentu saja tidak. Akan tetapi kalau guru hanya berkutat dengan upaya mengejar target kurikulum semata tidak juga bisa dibenarkan. 
Untuk itu saya jadi teringat akan sebuah puisi yang pernah saya temukan pada sebuah file power point yang diberikan teman beberapa waktu yang lalu. Puisi tersebut isinya berkaitan dengan guru dan kurikulum. Saya kutip isinya sebagi berikut:

Yoko S. Passandaran:
SAJAK KECIL BUAT GURU TENTANG KURIKULUM

Kurikulum bukan kitab suci
Pemerintah bukan Dewa atau Tuhan
Negara bukan agama
Pengawas dan kepala sekolah bukan malaikat
Sekolah bukan surga atau neraka

Apa yang harus kau takutkan?
Jangan kaubiarkan hatimu cemas
Jangan kaubiarkan langkahmu gamang

Tatap bola mata anak-anak itu
Pijarnya menyiratkan
Mereka ingin kaujadikan manusia
Mereka ingin menjadi diri sendiri 

Apa yang harus kau risaukan?
Biarkan otak mereka mengolah isi dunia
Biarkan tangan mereka mengaji alam semesta
Biarkan hati mereka menggapai Sang Maha Pencipta

Ajari mereka dengan kearifan matahari
tentang apa yang perlu dan yang tidak perlu dikelola dengan bijaksana
Ajari mereka dengan tembang kasih sayang
tentang perbedaan bukan untuk dipertentangkan
Untuk masa depan mereka
Untuk masa depan bangsa
Untuk masa depan manusia

Kurikulum bukan kitab suci
Pemerintah bukan Dewa atau Tuhan
Negara bukan agama
Pengawas dan kepala sekolah bukan malaikat
Sekolah bukan surga atau neraka

Tatap bola mata anak-anak itu
Pijarnya menyiratkan
Mereka ingin kaujadikan manusia
Mereka ingin menjadi diri sendiri

Jangan kaubiarkan mereka dilanda nestapa
Jangan kaubiarkan masa depan dijarah gerhana angkara
keserakahan, kemaksiatan, dan narkoba
Jangan kaujadikan mereka robot-robot dunia
yang harus senantiasa taat akan kehendakmu
yang selalu ketakutan pada tiran dan ketidakadilan

Katakan, otak dan rasa butuh keseimbangan
Teknologi dan estetika butuh etika
Karena keseimbangan dan etika
akan melahirkan makna dan manfaat tak terbatas
Seperti Tuhan telah menata
langit dan bumi, rembulan dan matahari
bukan untuk dipertentangkan
Tanpa olah rasa, otak adalah bencana bagi manusia
Tanpa olah otak, rasa adalah tiran bagi manusia

Seperti halnya mengajar
Belajar itu kompetensi yang menyenangkan
Belajar itu kebenaran merambah siang dan malam
Belajar itu perjuangan menata kehidupan
Belajar itu ibadah meniti usia
Belajar itu wajib hukumnya
Belajar itu bisa di mana-mana

Dan, Tuhan telah sediakan kurikulumnya: Iman kepada-Nya!
Silabusnya: Hati nurani kita!
Satuan pelajarannya: Amal dan perbuatan kita!
Hasil Evaluasinya: Surga atau neraka! 

Yogyakarta, 8 Agustus 2005
Disunting utk Rakor Dikmenjur di
Pulau Sepa, 10 September 2005
Bagiono Jokosumbogo

         Apa yang ada dalam pikiran dan perasaan Anda sebagai seorang guru setelah membaca puisi tersebut? Tentu jawabannya tidak akan sama antara satu dengan yang lain. Hanya satu hal yang mudah-mudahan kita satu persepsi, bahwa tugas guru ternyata bukan hanya mengejar target kurikulum, dalam arti transfer of knowledge saja, tetapi juga punya kewajiban menggali semua potensi yang ada dalam diri setiap siswa sehingga tumbuh menjadi pribadi yang utuh. Berat memang, tetapi kita tetap harus optimis bisa menjalankanya, dengan satu harapan semoga Allah SWT senantiasa membimbing langkah  perjuangan kita. Amiin