Senin, 22 Maret 2021

Rumus Shortcut MS Mempercepat Pengetikan


Mengetik dengan Microsoft Word sudah menjadi hal lumrah yang biasa dilakukan dalam keseharian. Mengetik yang baik selain rapi tentu saja diusahakan cepat. Untuk mempercepat proses pengetikan dalam artikel ini disajikan aneka rumus shortcut Microsoft Word yang diramu dari berbagai sumber. 

Awalnya mungkin akan terasa susah untuk mengingat rumus-rumus ini, tapi bila sering dipraktekan akan mempercepat kerja kita. Selamat mempraktekan!


CTRL + A: Memilih teks

CTRL + B: Menebalkan teks

CTRL + C: Copy (Menyalin teks)

CTRL + D: Membuka jendela Font Formatting

CTRL + E: Format tulisan Center

CTRL + F: Menemukan kata di dalam file Word

CTRL + G: Pindah ke halaman tertentu

CTRL + H: Mengganti kata/kalimat dengan kata/kalimat lain

CTRL + I: Italic

CTRL + J: Justify

CTRL + K: Menambah hyperlink

CTRL + L: Align left (membuat tulisan rata kiri)

CTRL + M: Membuat paragraf dari kiri

CTRL + N: Membuat file baru

CTRL + O: Membuka file

CTRL + P: Print

CTRL + Q: Menghapus editing

CTRL + R: Align right (membuat tulisan rata kanan)

CTRL + S: Menyimpan

CTRL + T: Membuat paragraf menggantung

CTRL + U: Underline (menambah garis bawah)

CTRL + V: Paste (menyalin teks)

CTRL + W: Menutup jendela Word

CTRL + X: Cut

CTRL + Y: Redo

CTRL + Z: Undo

CTRL + SHIFT + C: Copy Format

CTRL + SHIFT + D: Double Underline

CTRL + SHIFT + E: Track changes

CTRL + SHIFT + F: Mengganti font

CTRL + SHIFT + H: Menyembunyikan teks

CTRL + SHIFT + K: Membuat semua huruf kapital

CTRL + SHIFT + L: Membuat list

CTRL + SHIFT + M: Menghapus paragraf dari kiri

CTRL + SHIFT + N: Membuat normal

CTRL + SHIFT + P: Mengganti ukuran font

CTRL + SHIFT + Q: Mengganti huruf jadi simbol

CTRL + SHIFT + S: Menerapkan style

CTRL + SHIFT + T: Mengurangi paragraf menggantung

CTRL + SHIFT + V: Paste format

CTRL + SHIFT + W: Underline tanpa spasi

CTRL + SHIFT + >: Memperbesar ukuran huruf

CTRL + SHIFT + <: Memperkecil ukuran huruf

CTRL + ]: Memperbesar ukuran huruf

CTRL + [: Memperkecil ukuran huruf

CTRL + 1: Jarak enter 1

CTRL + 2: Jarak enter 2

CTRL + 5: Jarak enter 1.5

CTRL + 0: Menghilangkan jarak antar paragraf

CTRL + Home: Menuju halaman utama


***

Minggu, 14 Februari 2021

Membangun Negeri dengan Ekonomi Kreatif


 Oleh Enang Cuhendi


Negeri yang maju, subur, makmur dan sejahtera adalah impian setiap bangsa. Di dalam negeri yang seperti ini tentunya rakyat diharapkan hidup bahagia tidak kurang suatu apapun. Segala kebutuhan jasmani dan rohaninya mampu terpenuhi.

Untuk mencapai kehidupan seperti digambarkan di atas tentunya diperlukan satu upaya yang maksimal dari seluruh elemen bangsa. Tidak hanya pemerintah, tapi semua unsur masyarakat juga harus turut ikut berperan. Peran yang positif tentunya adalah yang paling diharapkan. Kerja keras, kekompakan dan kebersamaan mutlak diperlukan.

Salah satu upaya untuk mencapai kemakmuran adalah dengan meningkatkan devisa negara. Dengan kepemilikkan cadangan devisa yang besar maka setiap sektor kehidupan dapat leluasa dibangun. Cadangan devisa yang besar akan mampu membiayai semua aktivitas pembangunan, baik fisik maupun non fisik. Dengan pembangunan yang merata dan seimbang inilah negara yang makmur sejarah akan teraih.

Salah satu sumber yang bisa ditingkatkan untuk meraih devisa yang besar  adalah melalui perdagangan. Bukan perdagangan dalam negeri, tetapi perdagangan antar negara atau perdagangan internasional. Perdagangan dalam skala yang lebih luas, baik dalam lingkup regional Asia Tenggara maupun dunia secara keseluruhan. Dengan neraca perdangan yang baik, di mana nilai ekspor harus lebih tinggi dari impor, akan diraih devisa yang besar.

Satu yang menjadi catatan, untuk saat ke depan tentunya kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan minyak dan gas (migas) semata sebagai komoditas ekspor. Kondisi migas yang pernah menjadi primadona ekspor negara kita pada masa Orde Baru sudah tidak bisa diharapkan lagi. Kondisi cadangan migas sebagai salah satu sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui semakin lama semakin menipis. Cadangan minyak bumi kita semakin menyusut jadi sudah tidak bisa diandalkan lagi untu meraih devisa. Sebagiamana dikutip dari situs www.liputan6.com menurut Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Dwi Soetjipto, saat ini Indonesia memiliki cadangan minyak sebesar 3,8 milyar barel dan gas sebesar 77 triliun tcf (kaki kubik). Ini hanya setara dengan 0,2% cadangan dunia.

Oleh karena itu bijak rasanya kalau ekspor kita harus segera beralih ke sektor non migas. Salah satu komoditas ekspor non migas yang masih terbuka besar peluangnya untuk dikembangkan adalah sektor ekonomi kreatif. Dalam cetak biru Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2009-2015, ekonomi kreatif didefinisikan sebagai "Era baru ekonomi setelah ekonomi pertanian, ekonomi industri dan ekonomi informasi, yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan ide dan pengetahuan dari sumber daya manusia sebagai faktor produksi utama dalam kegiatan ekonominya. Lebih jelasnya inti dari ekonomi kreatif (ekraf)ditujukan pada mereka yang mengedepankan kreatifitas, pengetahuan, serta ide ide cemerlang seseorang untuk memajukan roda perekonomian.

Era revolusi industri 4.0 menjadikan ekonomi kreatif menjadi salah satu isu strategis yang layak mendapatkan pengarusutamakan sebagai pilihan strategi memenangkan persaingan global. Ini ditandai dengan terus dilakukannya inovasi dan kreativitas guna meningkatkan nilai tambah ekonomi melalui kapitalisasi ide kreatif. 

Pada era ekonomi keempat atau ekonomi kreatif ini Indonesia memiliki peluang yang besar untuk bersaing. Jumlah penduduk yang banyak bisa menjadi aset berharga yang dapat dimanfaatkan untuk ekspor yang berkelanjutan.

Sektor apa saja yang bisa masuk lingkup ekonomi kreatif? Setidaknya ada 15 sektor, yaitu: (1) arsitektur; (2) desain; (3) film, video dan fotografi; (4) kerajinan; (5) mode, (6) kuliner; (7) musik; (8) penerbitan; (9) periklanan; (10) game interaktif; (11) penelitian dan pengembangan; (12) seni rupa; (13) seni pertunjukkan; (14) teknologi informasi; dan (15) televisi dan radio. 

Berdasarkan data yang dihimpun dalam buku Ekspor Ekonomi Kreatif 2010-2016 yang dikeluarkan BPS RI dan BEKRAF RI tercatat pertumbuhan ekspor ekonomi kreatif naik secara positif. Nilai ekspor Indonesia tahun 2010 secara total mencapai US$157,78 miliar. Selanjutnya pada tahun 2011 mengalami peningkatan sebesar 28,98 persen menjadi US$203,50 miliar. Selama tahun 2012 sampai 2016, nilai ekspor Indonesia cenderung terus mengalami penurunan. Namun sebaliknya ekspor komoditas ekraf Indonesia cenderung terus mengalami peningkatan. Tahun 2010 nilai ekspor ekraf hanya sebesar US$13,51 miliar, terus mengalami peningkatan setiap tahunnya sehingga mencapai US$19,99 miliar pada tahun 2016.

Memang tidak semua komoditas subsektor-subsektor ekraf ada dalam seri data ekspor Indonesia. Dalam buku tersebut disebutkan bahwa selama periode 2010–2016 hanya ada tujuh subsektor ekraf yang komoditasnya diekspor ke luar negeri yaitu film, animasi dan video; kriya; kuliner; musik; fashion; penerbitan; dan seni rupa. Dari ketujuh subsektor tersebut, 90 persen lebih merupakan ekspor komoditas fashion dan kriya, sekitar enam persen adalah ekspor komoditas subsektor kuliner dan sisanya adalah ekspor dari komoditas subsektor penerbitan; seni rupa; musik; serta film, animasi, dan video. Subsektor film, animasi, dan video merupakan subsektor yang memiliki nilai ekspor terkecil selama periode 2010−2016, dan ekspor komoditas ini hanya ada pada tahun 2011, 2015, dan 2016. 

Walaupun demikian jika nilai ekspor ekraf Indonesia terus meningkat maka lambat laun ekspor Indonesia secara total tentu juga akan meningkat. Sehingga tidak berlebihan jika dikatakan bahwa ekspor ekraf Indonesia di masa yang akan datang merupakan salah satu potensi besar yang bisa diharapkan mampu mendorong kembali peningkatan ekspor Indonesia secara keseluruhan. Pada akhirnya akan meningkatkan cadangan devisa negara kita dan mampu meningkatkan kemakmuran semua lapisan masyarakat. Untuk itu pengembangan ekonomi kreatif harus terus didorong dan ditingkatkan. 


Untuk LKPD bisa diunduh di sini






 

 

Rabu, 10 Februari 2021

Meraih Devisa Negara dari Perdagangan Internasional

Oleh:  Enang Cuhendi

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa setiap negara membutuhkan devisa yang banyak untuk bisa membangun negaranya. Devisa biasa diartikan sebagai sejumlah emas atau valuta asing yang bisa digunakan untuk transaksi pembayaran dengan luar negeri yang diterima dan diakui luas oleh dunia internasional. Ada juga yang mengartikan devisa sebagai kekayaan yang dimiliki oleh negara dalam bentuk mata uang asing ataupun barang. Keduanya pada intinya sama saja.

Devisa memiliki banyak fungsi. Biasanya difungsikan sebagai: alat pembayaran hutang luar negeri, alat transaksi pembayaran barang dan jasa luar negeri (perdagangan, ekspor, impor, dan seterusnya), alat transaksi pembiayaan hubungan dengan luar negeri seperti membiayai kedutaan, misi budaya dan olah raga, hadiah atau bantuan atau sebagai juga sebagai sumber pendapatan negara.

Darimana devisa didapat? Devisa bisa didapat dari banyak sumber. Di antaranya dari: hasil pinjaman atau hutang dari negara lain, hadiah, bantuan atau sumbangan luar negeri, penerimaan deviden atau jasa serta bunga dari luar negeri, kiriman valuta asing dari luar negeri, wisatawan yang belanja di dalam negeri dan pungutan bea masuk. Satu lagi sumber devisa adalah dari hasil kegiatan perdagangan internasional, terutama ekspor.

Perdangan internasional atau perdangan antar negara memiliki dua kegiatan utama, yang ekspor dan impor. Ekspor merupakan aktivitas menjual barang keluar negeri. Sedangkan impor adalah aktivitas membeli barang dari luar negeri.Dari dua aktivitas utama perdagangan internasional yang perlu terus ditingkatkan volumenya tentunya ekspor bukan impor. Kegiatan ekspor akan semakin menambah cadangan devisa negara, sedangkan impor sebaliknya hanya akan menguras cadangan devisa yang kita miliki.

Sayangnya berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) RI sepanjang 2019 neraca perdagangan Indonesia masih mengalami rugi (defisit) sebesar 3,20 miliar dollar AS. Secara keseluruhan, rinciannya ekspor migas sepanjang 2019 tercatat mencapai 12,53 miliar dollar AS dan kinerja impor tercatat mencapai 21,88 miliar dollar AS. Kinerja impor non migas mencapai 148,83 miliar dollar AS dan ekspor tercatat sebesar 154,98 miliar dollar AS. Artinya neraca non migas masih mencatatkan surplus sebesar 6,15 miliar dollar AS.

Kondisi tersebut tentunya kurang bagus, karena setidaknya untuk menutupinya ada sebesar 3,20 miliar dollar AS yang terambil dari cadangan devisa negara kita. Idealnya cadangan devisa itu bukan berkurang, tetapi harus terus bertambah. Dengan berkurangnya cadangan devisa maka ketersediaan cadangan dana untuk melanjutkan pembangunan menjadi berkurang.

Hal yang menggembirakan pada akhir 2020 Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa neraca perdagangan selama periode Januari-Desember 2020 mengalami surplus sebesar 21,74 miliar dollar AS. Ini tentunya lebih baik jika dibandingkan dengan 2019 dan 2018 yang masing-masing mengalami defisit 3,20 miliar dollar AS dan 8,70 miliar dollar AS. Dengan adanya surplus ini maka cadangan devisa kita bertambah 21, 74 miliar dollar AS. Seandainya ini terus berlanjut bukan mustahil kita akan semakin makmur dan sejahtera di masa yang akan datang, karena bisa melakukan pembangunan

Kegiatan ekspor kita saat ini memang berbeda dengan pada masa Orde Baru. Kalau dulu terfokus pada ekspor minyak dan gas (migas), sementara sekarang karena cadangan migas kita semakin menyusut fokus ekspor harus beralih pada non migas. Komoditas ekspor non migas ini meliputi aneka hasil tambang di luar migas, hasil hutan, pertanian, industri tekstil dan pakaian jadi, mobil, kimia dasar organik, sampai pada industri kreatif.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2018 tercatat ada 10 komoditas ekspor non migas unggulan Indonesia. Dari kesepuluh komoditas unggulan tersebut batu bara masih menempati urutan teratas. Keberadaannya sebagai sumber energi terpenting untuk pembangkitan listrik dan berfungsi sebagai bahan bakar pokok untuk produksi baja dan semen membuat batubara menjadi komoditas andalan ekspor nonmigas Indonesia.

Daftar Komoditas Ekspor Nonmigas Unggulan Indonesia

Sumber: BPS RI

Untuk ke depan tentunya kita tidak bisa terus bergantung terus pada keberadaan batu bara. Sebagai salah satu sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui ketersediaan batu bara lama-lama akan meyusut dan habis sebagaimana halnya minyak bumi. Maka perlu dicari peluang komoditas ekspor yang lain. Produk olahan hasil hutan dan Industri tekstil bisa terus ditingkatkan. Sedangkan yang lainnya tentunya harus didorong pula untuk maju, termasuk  perkembangan industri kreatif di masyarakat.

Dengan majunya perdagangan internasional maka diharapkan volume cadangan devisa akan semakin bertambah. Dampaknya negara kita akan semakin makmur dan maju. 

 

LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK (Klik Di sini)


 

 


Minggu, 13 Desember 2020

Perubahan dan Perkembangan Cara Bertani di Desa Simpen Kidul di Era Modern

 oleh Puput Ria Maharani - SMPN 3 Limbangan Kelas 9C

Simpen Kidul adalah salah satu desa di Kecamatan Balubur Limbangan, Garut, Jawa Barat. Desa ini sangat indah dari aspek pemandangannya. Alamnya masih asri dan udaranya masih segar, cocok untuk para wisatawan yang ingin memanjakan diri dari kepenatan kerja. 

Dari sisi kuliner Desa Simpen Kidul memiliki makanan khas, yaitu peuyeum ketan dan ulen. Jenis makanan khas desa yang banyak disukai masyarakat.

Warga Desa Simpen Kidul paling banyak bercocok tanam di sawah maupun di kebun. Bertani atau bercocok tanam merupakan rutinitas dan pekerjaan yang tidak asing lagi bagi masyarakat di sini. Seiring kemajuan zaman perubahan demi perubahan terjadi dalam kehidupan masyarakat Simpen Kidul, termasuk di sektor pertanian. Dengan perkembangan teknologi pastinya sangat membantu sektor pertanian di desa ini. Contohnya perubahan dalam hal membajak sawah, dulu para petani lebih memilih menggunakan tenaga manusia atau hewan (kerbau) untuk membajak sawah, tetapi sekarang sebagian sudah memilih tenaga traktor. 

Traktor adalah kendaraan yang didesain secara spesifik untuk keperluan traksi tinggi pada kecepatan rendah, atau untuk menarik trailer atau implemen yang digunakan dalam pertanian atau konstruksi.  Alat ini sangat membantu petani untuk membajak sawah dikarenakan sangat efisien dan efektif juga waktu yang singkat. Memang harganya tidak murah tetapi para petani melihat dari sisi lain, yaitu sisi jangka pemakaian yang lebih lama. Hal lain, traktor berbeda dengan tenaga manusia/hewan(kerbau) membutuhkan waktu yang lama tidak cukup efisien dan menguras tenaga, belum lagi upah yang harus dikeluarkan oleh para pemilik sawah untuk membayar upah para pekerja di sawah. Lebih lama mereka bekerja maka semakin besar juga upah yang harus dibayarkan. Itulah faktor yang menyebabkan para petani pemilik sawah memilih menggunakan traktor untuk membantu proses bercocok tanam mereka disawah. 

Ada juga perubahan lainnya, yaitu perubahan penggunaan pupuk. Dulu masyarakat di Desa Simpen Kidul lebih memilih menggunakan pupuk organik dikarenakan dulu masih belum ada pupuk kimia untuk mereka bercocok tanam. Pupuk organik yang digunakan contohnya dari kotoran hewan misalnya kotoran kelinci, ayam, marmoot, dan juga sapi. Setelah adanya pupuk kimia yang telah dikembangkan oleh para ahli masyarakat mulai lebih memilih untuk menggunakan pupuk kimia. Pupuk kimia dianggap lebih mudah didapat dan juga lebih efisien juga efektif untuk tanaman yang petani tanam. 

Perubahan lain yang terjadi misalnya dalam hal mengusir hama. Dulu para petani menggunakan orang-orangan sawah untuk mengusir hama. Saat ini pemanfaatan orang-orangan sawah tidak cukup efektif. Saat ini untuk mengusir hama  para petani sebagian memilih menggunakan caira kimia untuk mengusir hama, misalnya dengan menggunakan cairan yang bernama pestisida. Tentunya penggunakan obat/cairan kimia pasti ada dampak yang ditimbulkan dan meusak ekosistem hewan di sawah. 

Itulah beberapa perubahan perubahan dari segi sektor bertani di Desa Simpen Kidul. 


Kamis, 10 Desember 2020

Pesta Politik di Tengah Pandemi, Kok Bisa?

Rabu, 9 Desember 2020 sebagian wilayah di Indonesia melangsungkan pesta politik bertajuk Pilkada. Pilkada atau pemilihan kepala daerah ditujukan untuk memilih para pemimpin di daerah, baik tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Total daerah yang melaksanakan Pilkada serentak tahun 2020 sebanyak 270 daerah, terdiri dari 9 provinsi, 224 kabupaten dan 37 kota. 

Hasil Pilkada secara real count memang belum resmi dirilis Komisi Pemilihan Umum (KPU), namun di beberapa titik riak-riak kegembiraan mulai terlihat. Wajah-wajah sumringah bertabur senyum mengembang bisa dilihat dari pihak-pihak yang merasa sudah menang berdasarkan hasil hitung cepat (quick count) yang dikeluarkan banyak pihak. Di lain pihak wajah muram penuh kecewa muncul di pihak yang kalah. 

Apapun yang hasil Pilkada bukanlah fokus dari tulisan ini. Coretan sederhana ini mencoba mengamati pelaksanaan Pilkada-nya yang justru dilaksanakan di tengah maraknya pandemi Covid-19. Di satu sisi pandemi Covid-19 telah sukses menghentikan berbagai aktivitas manusia. Proses pendidikan formal resmi diubah menjadi pembelajaran jarak jauh berbasis dalam jaringan (online), sebagian orang dipaksa untuk bekerja dari rumah (work from home), helatan liga sepakbola dan pentas olah raga lain dihentikan, aktivitas peribadatan dibatasi, bahkan aneka aktivitas lainnya yang sifatnya mengumpulkan massa dibubarkan dan bahkan ada yang diancam untuk dipidanakan. 

Hal yang aneh ketika aktifitas lain dibatasi bahkan dihentikan, kok pesta politik yang namanya Pilkada justru sangat ditolerir untuk dilaksanakan? Bukankah Pilkada juga melibatkan massa dalam jumlah yang banyak? Bukankah Pilkada juga sangat berpotensi menjadi klaster baru penyebaran Covid-19? Memang protokol kesehatan dengan ketat dilaksanakan, tetapi potensi itu tentunya tetap ada bukannya menjadi tidak ada sama sekali.

Ironis memang, tapi itulah sebuah realita yang ada di panggung kehidupan suatu bangsa yang bernama Indonesia. Realita yang tidak jarang membuat kita berkerut kening. Realita yang juga seringkali mengundang banyak pertanyaan. Juga menjadi realita yang mungkin menyakitkan bagi sebagian pihak yang merasa dirugikan akibat aktivitas hidupnya dihentikan dengan alasan takut ada klaster penularan Covid-19 yang baru.

Apa yang menjadi dasar dilaksanakannya Pilkada, tentunya pemerintah dan KPU punya alasan tersendiri. Segudang alasan bisa dikemukakan untuk memperkuat argumentasi kenapa Pilkada harus dilaksanakan. Yang sebenarnya alasan yang sama juga sebenarnya mungkin bisa dipakai kalau ingin mengaktifkan kembali aspek kehidupan yang lain. Sebut saja contohnya perhelatan liga sepak bola Indonesia seperti yang dilakasanakan di luar negeri dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat. 

Kita hanya bisa berbaik sangka dengan semua kebijakan pemerintah ini. Yang mungkin ujung-ujungnya semua diperuntukkan bagi kebaikan masyarakat. Hanya saja segudang pertanyaan tetap menggantung, mengapa Pilkada kok bisa dilaksanakan, sementara yang lain harus dihentikan? Jawabannya, wallahu a'lam bish-shawabi. 

Cicalengka, 10 Desember 2020

Senin, 30 November 2020

Hattrick

 Oleh Enang Cuhendi


Hattrick adalah istilah dalam sepakbola. Biasanya ditujukan pada keadaan ketika seorang pemain mampu mencetak gol tiga kali dalam satu pertandingan. Hattrick merupakan prestasi yang luar biasa bagi seorang pemain,  apalagi berposisi striker atau penyerang. Kalau pemain bisa hattrick di setiap pertandingan dijamin bakal jadi Top Scorer dan menjadi pemain berharga mahal. 

Bobotoh atau pendukung Persib begitu bangga dengan Cristian Bekamenga,  Sergio Van Dick atau Ezzequel Enduasell yang sering melakukan hattrick. Dunia pun selalu mengagung-agungkan sosok Leonel Messi,  Cristiano Ronaldo,  Pele atau Maradona yang sering hattrick saat bermain. 

Akan tetapi, bagaimana kalau hattrick ini dicetak di dunia korupsi?  Apakah tetap menjadi kebanggaan?  Kasus di salah satu kota di negeri ini yang berdiri selama 16 tahun dengan dipimpin oleh tiga walikota dan ketiga-tiganya tersandung korupsi adalah hal yang ironis.  "Hattrick" tiga walikota masuk bui gegara korupsi tentu bukan kebanggaan,  tetapi aib yang luar biasa.  Apalagi berasal dari warna kaos partai yang sama. Sungguh drama komedi tidak lucu dalam pentas politik negeri ini. 

Kemarin ada berita seorang menteri menyusul menteri sebelumnya ditangkap karena korupsi.  Hari ini ada berita, negeri ini masuk tiga besar negara terkorup di Asia versi Lembaga Transparansi Internasional. Ini menjadi bumbu yang semakin tidak sedap bagi perkembangan negeri ini. Raihan "medali perunggu" untuk negeri terkorup di Asia memiliki cita rasa yang sangat beda dengan medali perunggu di Asian Games. Medali perunggu di AG adalah kebanggaan, tetapi ini adalah tamparan keras yang menyakitkan atas hasil dari sebuah peristiwa yang disebut Reformasi.  Niat hati menghapus KKN (Korupsi,  Kolusi dan Nepotisme) yang ada justru KKN semakin menggila.  

Kalau ditanya apa motivasi para "pejabat yang terhormat" tersebut korupsi.  Alasannya pasti tidak akan jauh dari seputar  harta,  tahta dan renata eh wanita. Memang ketiga hal ini bisa membawa seseorang ke puncak sukses,  tapi juga bisa menghinakan orang sehina-hinanya. 

Harta,  tahta dan wanita adalah sumber motivasi.  Bisa positif kalau dimaknai positif, juga bisa negatif kalau dimaknai negatif. Banyak orang yang meraih sukses luar biasa karena dorongan tiga faktor itu,  namun tidak sedikit yang jatuh terpuruk.  Semua kembali kepada kita bagaimana memaknainya. 

Kembali ke hattrick,  akankah semua KKN yang semakin menggila ini akan mendorong munculnya "hattrick" peristiwa dalam sejarah Indonesia. Setelah rezim orde lama tumbang di 1966, orde baru runtuh di 1998, berikutnya?  Wallahuallam.


Cicalengka, akhir November 2020

Senin, 23 November 2020

Download Buku Evaluasi dan Penelitian Pendidikan

Sahabat, bagi yang memerlukan e-book Evaluasi dan Penelitian Pendidikan, saya postingkan beberapa buku yang mudah-mudahan bermanfaat, silakan rekan-rekan unduh melalui tautan judul bukunya langsung. 

Selamat mengunduh & melengkapi koleksi perpustakaan digital Anda, semoga bermanfaat! 

1. Metodologi Penelitian 

2. Metodologi Penelitian Kualitatif

3. Metodologi Penelitian Kualitatif - Kuantitatif

4. Metode Penelitian Studi Kasus

5. Penelitian Tindakan Kelas

6. Metode Penelitian

7. Buku Ajar Evaluasi Pembelajaran

8. Evaluasi Pembelajaran

9. Evaluasi Pembelajaran

10 Evaluasi Pembelajaran

11 Evaluasi Pembelajaran

Rumus Shortcut MS Mempercepat Pengetikan

Mengetik dengan Microsoft Word sudah menjadi hal lumrah yang biasa dilakukan dalam keseharian. Mengetik yang baik selain rapi tentu saja diu...