Senin, 10 Maret 2014

Membaca Krisis Politik di Ukraina dari Perspektif Geopolitik (2)

Penulis : M Arief Pranoto, Research Associate Global Future Institute (GFI)
Mapping Politik di Ukraina

Pada mulanya Yushchenko dinilai sebagai politisi paling unggul karena perolehan 51,99% dari total 27,96 juta suara. Ia mengantongi sekitar 15,11 juta pemilih. Namun setahun masa kepemimpinannya tidak membawa perubahan signifikan di Ukraina, popularitasnya pun turun menjadi 81 kursi, atau sebanding dengan 3,56 juta suara. Betapa drastis, sekitar 2/3 suara pemilihnya hilang daripada perolehan awal.

Sepintas karir politik Yushchenko hampir mirip dengan Mohamad Morsi yang naik ke puncak kekuasaaan akibat gerakan massa, kemudian terpilih dalam pemilu mengganti Mobarak. Kemiripan “nasib dan karir” keduanya lebih kepada selain tata cara meraih kursi presiden diawali aksi-aksi massa jalanan ---di Ukraina titelnya Orange Revolution, di Mesir bertajuk Arab Spring--- juga kesamaan lain ialah kurun waktu kekuasaan ternyata tak membawa perubahan bagi negeri yang dipimpinnya. Inilah penyebab pokok kenapa kepercayaan rakyat kepadanya menjadi redup. Jika resiko yang diterima Yushchenko hanya melorotnya kursi partai Nasha Ukrayin di parlemen, sementara nasib Morsi justru tragis, ia dijungkalkan oleh Jenderal El Sisi, junta pilihannya sendiri.  
Membaca peta politik di Ukraina, tak boleh lepas dari faktor kubu serta kelompok yang bermain. Pertama: kubu Yanukovich yang tetap setia pada Rusia, sekutu tradisional Ukraina semenjak doeloe. Kedua ialah kelompoknya Tymoshenko, Yushchenko dkk yang cenderung berafiliasi ke “Barat”. Maksud Barat dalam hal ini adalah UE, AS, dan North Atlantic Treaty Organization (NATO) tersirat di dalamnya. Basis massa Yanukovich ada di wilayah timur, tetangga Rusia; sedang basis kubu Yushchenko dkk di wilayah barat, berdekatan dengan negara-negara UE. Walau kenyataan di lapangan bukan hitam putih semacam itu, setidak-tidaknya, inilah mapping politik di Ukraina dari sisi geografi dan aspek “ideologi”.
Indikasi lain atas meredupnya Orange Revolution selain hal-hal yang telah diungkap di atas (bag-1), yaitu political infighting (konflik internal) antara Yushchenko, sang Presiden versus PM-nya sendiri akibat berebut sumber-sumber strategis negara. Maka singkat cerita, Tymoshenko pun dicopot sebagai PM (8/9/2005) karena alasan terlibat korupsi.   
Aliansi Berubah
Tak bisa dielak, dinamika politik internal (political infighting) di Ukraina mengubah tatanan aliansi karena sudah tidak ada lagi kekuatan mayoritas di parlemen pasca pemilu. Muncul kelompok dan kubu-kubu baru. Pihak Tymoshenko misalnya, ia tetap bersikap tidak kompromi dengan kelompok Yanukovich, sementara Yushchenko cenderung wait and see. Partai Sosialis malah meninggalkan barisan pendukung Revolusi Oranye, kemudian bergabung dengan Yanukovich. Agaknya tawaran menjadi ketua parlemen tidak disia-siakan oleh Moroz, salah satu Trio Penggerak revolusi (oranye) sebelumnya. Klimaks perubahan aliansi terlihat ketika Yushchenko menyepakati deklarasi persatuan nasional yang berisi 27 kesepakatan. Apa boleh buat. Akhirnya ia pun merestui Yanukovich menjadi PM.
Beredar anggapan bahwa Yushchenko telah mengkhianati ‘perjuangan’. Ia memang menemui dua pilihan yang serba sulit. Pertama, membubarkan parlemen dan menyelenggarakan pemilu lagi. Kedua, menerima Yanukovich. Pilihan pertama membawa dua implikasi, antara lain: (1) tak ada jaminan pemilu akan menghasilkan perubahan signifikan pada komposisi partai-partai di parlemen. Akibatnya kebuntuan politik niscaya berlanjut. Kekosongan kekuasaan akan menyebabkan pemerintahan tidak berjalan efektif. Ujung-ujungnya rakyat bakal meminta revolusi lagi. Itu berarti melengserkan Yushchenko sendiri; (2) Yushchenko tidak yakin partainya mampu meraup suara signifikan, bahkan diperkirakan kursi partainya akan mengecil. Sudah tentu, hal ini akan menjadi bumerang apabila kursi Tymoshenko dan Yanukovich jumlahnya kian bertambah.
Mengapa opsi menerima Yanukovich sebagai PM dianggap pilihan sulit, oleh karena selain “melukai” pendukung Revolusi Oranye, juga berakibat pada buruknya image Yushchenko di mata Barat. Tetapi secara politis tidaklah demikian, karena ia masih meraih “keuntungan”. Artinya selain akan didukung mayoritas parlemen gabungan antara kubu Yushchenko, Yanukovich, Partai Sosialis dan Partai Komunis sebanyak 321 kursi, keuntungan lainnya bahwa gabungan tersebut secara tidak sengaja telah mempersatukan kembali wilayah timur (pro-Yanukovich) dan daerah barat (pro-Yushchenko) yang terbelah gara-gara pemilihan presiden dua tahun lalu. Tak ada kawan dan lawan abadi dalam politik, kecuali kepentingan. Tetapi kepentingan (kedaulatan) bangsa dan negara adalah lebih utama daripada sekedar kepentingan pribadi, kelompok atau golongan. Agaknya pilihan ini yang diambil oleh Yushchenko.
Sebagai catatan tambahan, meskipun ia beraliansi dengan Yanukovich, agaknya visi Yuschencko tak berubah. Ini terlihat pada kontrak politik dengan Yanukovich, yaitu: “mengintegrasikan Ukraina dengan Barat dan World Trade Organization (WTO) menjadi titik tekan kontrak politik”.
Pertanyaannya ialah: dapatkah stabilitas Ukraina murni terujud di tengah tarik menarik kekuatan antara Rusia dan UE; lalu, geopolitical leverage macam apakah yang diincar serta diperebutkan kedua adidaya?
sumber:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KOLOM kOMENTAR

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.