Selasa, 17 November 2020

K.H. AHMAD DAHLAN, SOSOK SANG PENCERAH

Siapa yang tidak mengenal Muhammadyah. Muhammadiyah adalah garda depan (mainstream) gerakan civil society Indonesia. Lebih dari satu abad usianya menandakan bahwa organisasi gerakan Islam ini telah lulus melewati ujian zaman. Di antara sekian banyak kontibusi Muhammadiyah terhadap bangsa ini, pendidikan adalah yang paling menonjol. Lembaga pendidikan dengan nama Muhammadyah banyak bertebaran di seluruh Nusantara dari mulai TK sampai perguruan tinggi. Sejak awal didirikan Muhammdyah merupakan gerakan Islam yang menempuh medan perjuangan terutama melalui jalur pendidikan.

Berbicara Muhammdyah tidak lepas dari sosok K.H. Ahmad Dahlan sebagai pendiri. KH. Ahmad Dahlan putra pribumi asli kelahiran Yogyakarta, 1868. Nama kecilnya adalah Muhammad Darwis. Ia adalah putera keempat dari K.H. Abu Bakar, seorang ulama dan khatib terkemuka di Masjid Besar Kasultanan Yogyakarta pada masa itu.

Pada usia ke-15 tahun, ia pergi haji dan tinggal di Mekah selama lima tahun. Pada periode inilah Muhammad Darwis muda mulai berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaharu dalam Islam, seperti Muhammad Abduh, Al-Afghani, Rasyid Ridha dan Ibnu Taimiyah. Pada tahun 1903 ia berangkat kembali ke Mekah dan menetap di sana selama 2 tahun. Pada keberangkatan kedua ini tampaknya ia sengaja ingin memperdalam ilmu pengetahuan. Pada masa ini, ia sempat berguru kepada Syeh Ahmad Khatib yang juga guru dari pendiri NU, KH. Hasyim Asyari. Ia juga makin intens membaca berbagai literatur karya para pembaharu Islam seperti Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, dan Jamaluddin al-Afghani. Pemikiran para pembaharu inilah yang kemudian menginspirasi Ahmad Dahlan untuk melakukan pembaharuan di Indonesia.

Kisah lengkap dari tokoh berjuluk "Sang Pencerah" ini selanjutnya bisa dibaca pada biografinya berikut ini, klik K.H. Ahmad Dahlan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KOLOM kOMENTAR

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.