Senin, 31 Desember 2018




 MENELUSURI JEJAK MANUSIA SUNDA DI GUHA PAWON

Oleh:
Enang Cuhendi

Namanya Guha Pawon atau Gua Pawon. Penulis menggunakan nama yang pertama, yaitu Guha Pawon sesuai dengan nama yang tercantum di lokasi. Kata Guha memang diadopsi dari bahasa Sunda yang dalam bahasa Indonesia disebut gua. Pengertiannya sama tidak ada perbedaan. Akan tetapi supaya nilai kearifan lokalnya lebih terasa maka penulis menggunakan nama Guha Pawon.
Guha Pawon terletak di Desa Gunung Masigit Kecamatan Cipatat Kabupaten Bandung Barat (KBB) Jawa Barat. Lokasinya tidak terlalu jauh dari jalan raya Bandung – Cianjur, sekitar lima kilometer setelah Situ Ciburuy Padalarang kalau dari arah Bandung. Gua ini berada di sebuah bukit  diketinggian sekira 700 mdpl yang disebut Pasir Pawon. Di bandingkan dengan area sekitarnya Pasir Pawon adalah satu-satunya bukit kapur yang masih asri tanpa ada gangguan penggalian.
Di bukit seukuran kira-kira 45 ha itu terdapat beberapa gua yang lubang-lubang masuknya menghadap ke arah utara. Di bawahnya merembes mata air dari retakan-retakan batu gamping yang tidak pernah kering sekalipun di musim kemarau, cukup mengairi berpetak-petak sawah di sekitarnya. Dua hal itulah yang membuat gua ini dijaga masyarakat sebagai warisan alam yang sangat berharga.
“Pawon” sendiri dalam bahasa Sunda berarti dapur. Nama ini diidentikan dengan sebuah ruangan di dalam goa yang bagian atasnya terdapat lubang seperti cerobong asap. Diduga bahwa d tempat ini para manusia purba yang tinggal di tempat ini mengolah makanannya. Apalagi diperkuat dengan adanya temuan berupa serpihan tembikar dan alat-alat serpih yang diperkirakan dipakai sebagai alat untuk keperluan mengolah.
Di kalangan masyarakat sekitar ada yang menghubungkan keberadaan Guha Pawon ini dengan legenda Sangkuriang. Guha Pawon diyakini sebagai dapur tempat Dayang Sumbi, ibunda Sangkuriang, memasak. Ya, namanya juga legenda yang tentunya berbeda dengan sejarah.
Guha Pawon terdiri dari beberapa ruang atau gua kecil. Ruang pertama disebut Gua Poek. Poek artinya gelap.  Gua Poek sering dipakai sebagai tempat bermalam oleh orang yang berkunjung ke Gua Pawon. Di dalamnya terdapat sebuah ruangan yang cukup luas yang memang terlihat seperti sebuah kamar untuk menginap. Menurut legenda orang Sunda (legenda Sangkuriang), gua ini dulunya adalah dapur Dayang Sumbi.
Untuk sampai ke ruang berikutnya yang merupakan ruang utama harus sedikit memanjat dan menyelip di bawah batu besar. Di sana terdapat tiga mulut gua yang seperti minta dimasuki, dan ada satu lagi yang letaknya di bawah, jadi seperti kolam kering yang di pojoknya ada sebuah celah besar. Setelah itu perjalanan dilanjutkan dengan memasuki mulut gua paling kiri. Gua ini masih temasuk ke dalam bagian dari Gua Lega, karena ruangannya memang nyambung dengan ruangan dari kedua mulut gua yang lainnya, sehingga di namakan sebagai ruang utama.
Di bagian kiri atas gua Lega ini, ada sebuah tempat yang dinamakan Sumur Bandung. Sumur Bandung ini sebenarnya bukanlah sebuah sumur, lebih seperti sebuah kolam kecil yang kadang-kadang airnya kering. Sumur ini sebenarnya tidak terlalu besar, tetapi airnya bening dan dingin. Bagi yang percaya air tersebut dipandang bisa membawa berkah. Pengunjung bisa membasuh muka, tangan atau kaki dengan air itu.  Sumur Bandung ini tempatnya cukup tinggi dan jalan kesana total harus memanjat dinding batu yang terjal dan licin.
Dari Gua Lega bila terus berjalan ke arah belakang kita menuju ke sebuah celah besar. Di sana terdapat sebuah tebing yang indah. Sebelah kanannya ada sebuah gua kecil yang di depannya terdapat lokasi penemuan fosil manusia purba. Jadi ternyata gua ini pernah di pakai sebagi tempat tinggal manusia purba, yang konon adalah nenek moyangya orang Bandung.



Lokasi tempat ditemukannya Kerangka Manusia Purba
Di situ kita bisa menikmati indahnya tebing yang menjulang tinggi dengan warna emas kecoklatan, lalu berjalan ke bawah sedikit ada lagi celah di pinggir tebing yang bentuknya seperti sebuah jendela besar bagi Gua Pawon sebagai rumahnya. Tempat ini dinamakan Gua Kopi karena dulunya di sini banyak pohon kopi yang tumbuh.




Dari sana bisa lanjut ke bagian depan Gua Pawon. Untuk sampai ke sana, harus kembali lagi ke Gua ruang utama dan kali ini berjalan turun ke bawah, ke tempat yang sebelumnya kami sebut sebagai kolam kering dengan celah yang cukup besar di pojoknya.
Setelah melewati celah itu, kita akan sampai di tempat yang di beri plat 'kamar 1'. Disini bau kotoran kelelawar menyengat sekali. Dari situ bisa langsung keluar Gua Pawon melalui mulut utama. Setelah keluar dari mulut gua itu masuk ke satu gua lagi, yaitu Gua Barong. Gua ini terletak di sebelah kanan jalan masuk utama. 
Nama Guha Pawon seenarnya melejit belum terlalu lama. Keberadaannya baru dikenal masyarakat luas sekitar tahun 2000-an seiring dengan ditemukannya beberapa fosil manusia pra sejarah di tempat ini. Jauh sebelum itu Guha Pawon hanyalah tempat biasa yang tidak banyak dikunjungi, bahkan oleh masyarakat sekitarnya sekalipun. Letak gua yang berada di lokasi penambangan berbagai jenis batu itu hanya dianggap sebagai satu lokasi tempat bernaung disela penambangan batu atau tempat bermain anak-anak.
Di tahun 2000 penelitian pendahuluan  dilaksanakan oleh peneliti dari ITB dan LIPI yang tergabung dalam Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB). Penelitian ini menjadi batu loncatan untuk ekskavasi Balai Arkeologi Bandung pada 2003. Setelah melakukan penggalian selama hampir sepuluh hari dari tanggal 10 s.d. 19 Juli 2003 pada lubang berukuran 2 x 2 meter persegi dengan kedalaman 140 centimeter para peneliti dari Balai Arkeologi Bandung menemukan kerangka utuh meringkuk dari Manusia Pawon yang diperkirakan berumur antara 5600 sampai dengan 9000 tahun. Selain itu di  tempat yang sama juga ditemukan serpihan batu.
Dugaan sementara para pakar, tulang belulang tersebut milik manusia purba yang hidup pada jaman batu dan tinggal di dalam gua. Sedangkan serpihan batu diduga merupakan perkakas milik manusia yang hidup dijaman dulu. Temuan tulang belulang serta serpihan batu di Gua Pawon, masih berdasarkan perkiraan berasal dari masa perlapisan budaya. Pada masa itu terjadi pelapisan tiga budaya, yaitu masa Mesolithikum, Preneolithikum, serta Neolithikum, yang masing-masing memiliki ciri tersendiri.
Menurut Ketua Tim Peneliti Gua Pawon dari Balai Arkeologi Bandung, Lutfi Yondri, penggalian dilakukan menggunakan metode speed. Metode speed, yaitu menggali selapis demi selapis tanah dengan ketebalan lima sentimeter untuk setiap lapisnya. Saat penggalian itu, pada lapisan-lapisan tersebut ditemukan tulang belulang, batu obsidian, serpihan batuan, gigi, rahang, serta mollusca air tawar. Tak hanya tulang belulang manusia purba, tim ini juga menemukan tulang belulang berbagai jenis unggas, vertebrata, serta reptil. Tulang yang diperkirakan milik mollusca air tawar, ditemukan dalam keadaan utuh. Kemungkinan besar, hewan tersebut tidak dikonsumsi oleh manusia pada jaman itu, karena bila dijadikan mangsa makhluk lain, biasanya badan hewan tersebut hancur dan sulit dapat diangkat.
Tahun 2013 ekskavasi lanjutan situs purbakala Guha Pawon kembali menemukan indikasi keberadaan manusia Guha Pawon. Menurut ketua tim peneliti, Luthfi Yondri, Tulang manusia Guha Pawon yang ditemukan pada Minggu (29/7/2013) memiliki usia jauh lebih tua daripada usia kerangka manusia yang ditemukan utuh pada tahun 2003-2004. Tulang tersebut ditemukan pada lapisan di bawah manusia berumur 9.500 kita menemukan sisa pembakaran berupa tanah terbakar dan sisa-sisa budaya seperti obsidian dan fragmen tulang binatang. Berdasarkan hasil penelitian dari tautan gigi, perbandingan lebar kepala dari depan, belakang, dan samping, menurut dugaan para ahli besar kemungkinan manusia yang ditemukan terakhir ini masih dalam satu ras yang sama, yaitu ras mongoloid.

Pada penelitian tahun 2017 para peneliti dari Balai Arkeologi (Balar) Bandung kembali menemukan 2 kerangka manusia purba di Gua Pawon. Sejak tahun 2000, total telah ditemukan 7 kerangka manusia purba zaman mesolitik di lokasi yang sama. Berdasarkan jenis kelamin untuk masing-masing kerangka. Di antaranya sudah teridentifikasi 3 individu kerangka berjenis kelamin laki-laki, 1 perempuan dan 1 belum teridentifikasi.
Melihat lokasinya yang lebih dalam dari penemuan sebelumnya, dua kerangka manusia purba yang ditemukan diprediksi lebih tua dari temuan-temuan sebelumnya. Kerangka yang dulu ditemukan di kedalaman sekitar 1,6 meter, sedangkan yang terakhir masing-masing 2,45 meter dan 2,3 meter. Jika temuan-temuan kerangka manusia purba sebelumnya antara kisaran 5600-9000 tahun lalu, maka temuan kali ini bisa lebih tua dari temuan-temuan sebelumnya. Semua temuan tersebut diperkirakan berasal dari zaman mesolitik. Ciri-cirinya mereka tinggal di goa-goa dan ditemukannya alat-alat dari tulang-tulang dan serpihan yang mereka pakai.



Seorang peneliti menunjukkan kerangka manusia purba yang ditemukan di Gua Pawon.
Koleksi: Koran SINDO/Nur Azis

Mengingat arti penting keberadaan Guha Pawon dari sisi arkeologi, sejarah dan hasil budaya masyarakat Sunda, maka menjaga keutuhan Pasir Pawon seolah-olah menjadi harga mati. Temuan yang spektakuler itu menjadikan situs Guha Pawon merupakan situs kuburan manusia prasejarah pertama dan satu-satunya di Jawa Barat dan Banten. Inilah aset Kabupaten Bandung Barat yang selayaknya bertaraf internasional dalam kontribusinya kepada penyusunan evolusi manusia prasejarah di dunia.
Selama hampir delapan tahun sejak penelitian rintisan KRCB dan lima tahun setelah tersingkapnya kerangka meringkuk oleh Balai Arkeologi Bandung, Gua Pawon belum ditangani secara seharusnya sebagai suatu situs bertaraf dunia. Bahkan lokasi situs ini hampir saja jatuh ke tangan para pengusaha batu kapur di awal 2008.
Titik balik fokus pengelolaan Guha Pawon terjadi 2009. Ketika pemekaran Kabupaten Bandung Barat dari Kabupaten Bandung terwujud, aset berharga ini mulai menjadi perhatian serius, khususnya melalui Wakil Bupati Ernawan Natasaputra. Tim penyelamatan karst Citatah segera dibentuk dengan SK Bupati Bandung Barat. Pemerintah Provinsi Jawa Barat pun mendukung usaha-usaha ke arah penyelamatan situs Gua Pawon Gubernur Ahmad Heryawan melakukan kunjungan ke Desa Gunung Masigit tempat situs itu berada dan Wakil Gubernur Dede Yusuf secara khusus berkunjung dan masuk ke Guha Pawon. Pemerintah provinsi Jawa Barat juga menunjukkan komitmennya dengan mengucurkan dana awal Rp 60 juta untuk pengembangan Kampung Wisata, Seni, dan Budaya Gua Pawon.

SUMBER BACAAN:
Nur Aziz, “Peneliti Temukan Lagi Dua Kerangka Manusia Purba di Goa Pawon”, Selasa, 21 Maret 2017 - 18:11 WIB

Goa Pawon, Bandung, Jawa Barat Menyingkap Kehidupan Masa Lalu di Gua Pawon

Putra Prima Perdana, Kompas.com - 31/07/2013, 13:58 WIB “Ditemukan, Manusia Goa Pawon Berusia Lebih dari 9.500 Tahun”
Diakses Senin, 25 Desember 2018 pukul 00.05