Senin, 28 Mei 2018

MUNGSOLKANAS, MESJID TERTUA DI KOTA BANDUNG


Oleh:
Enang Cuhendi

Bandung saat ini merupakan salah destinasi wisata cukup ramai di Indonesia. Setiap pekan berduyun-duyun pengunjung dari luar Kota Bandung, khususnya dari Jakarta datang berkunjung ke kota ini. Gerbang pintu tol Pasteur setiap pekan menjadi pintu masuk utama wisatawan ke Kota Kembang ini. Banyak objek yang memang ditawarkan Kota Bandung sebagai tujuan wisata. Salah satunya wisata belanja dengan Kawasan Cihampelas sebagai salah satu ikonnya.
Tulisan ini tentunya tidak bermaksud untuk mengupas masalah wisata belanja karena tidak nyambung dengan judul tulisan. Walau begitu masih nyambung dengan bahasan tentang Cihampelas salah satu kawasan belanja di Ibu Kota Asia Afrika ini. Kalau Anda berkunjung atau jalan-jalan ke Cihampelas pernahkah Anda menemukan papan/plang bertuliskan “Masjid Jami Mungsolkanas”? Jawabannya bisa pernah atau tidak tentunya. Kalaupun pernah rasanya kita tidak terlalu tertarik berpikir lebih jauh, paling mungkin sebatas ada rasa aneh dengan nama masjid tersebut, karena tidak lazim.
Nama masjid ini memang sedikit asing. Berbeda dengan masjid-masjid pada umumnya yang menggunakan nama-nama berbau Arabiyah, Mungsolkanas merupakan akronim dari kalimat berbahasa Sunda, yaitu: “Mangga urang ngaos shalawat ka Kanjeng Nabi Muhammad S.A.W” atau “mari kita mengaji dan bersalawat kepada Nabi Muhammad S.A.W.


Popularitasnya tentu saja tidak sepopuler  Masjid Agung/Masjid Raya (Alun – Alun) Bandung yang berdiri megah di pusat kota atau Masjid Cipaganti yang ada di pinggir jalan raya utama. Dilihat dari lokasinya,  masjid ini memang sedikit di dalam. Masuk ke sebuah gang kecil bernama Gang Winataatmaja yang terletak di seberang Rumah Sakit Advent, atau di sebelah Sekolah Tinggi Bahasa Asing di RT 02 RW 05 Kelurahan Cipaganti Kecamatan Coblong Kota Bandung.
Masih teringat dalam ingatan penulis ketika masih belajar di SMPN 23 Bandung sekitar 30-an tahun yang lalu, kegiatan renang yang diadakan sekolah selalu mengambil tempat di Kolam Renang Cihampelas. Lokasi kolam renang yang sekarang sudah tidak ada ini tidak jauh dari masjid Mungsolkanas ini. Setiap kali lewat di depan dan membaca papan namanya, hanya rasa aneh yang muncul. Saat itu tidak terpikirkan untuk menggali lebih jauh tentang masjid ini. Padahal ternyata masjid yang satu ini menyimpan nilai sejarah yang luar biasa. Masjid Mungsolkanas ternyata tercatat sebagai masjid tertua di Kota Bandung.
Keterangan lengkap tentang Masjid Mungsolkanas didapat dari tulisan Nugraha di situs info.pikiran-rakyat.com. Ditulis bahwa masjid tersebut awalnya hanya berupa tajug (mushala) sederhana yang berdiri sejak tahun 1869. Bentuk bangunannya berupa kobong dan panggungnya terbuat dari bilik. Dalam masyarakat Sunda, terutama di kalangan pesantren, kobong mengacu pada asrama atau tempat tinggal para santri yang sering disebut pondok pesantren.
Bangunan masjid ini didirikan di atas lahan yang diwakafkan oleh nenek Zakaria yang bernama Lantenas, seorang janda dari R. Suradipura, Camat Lengkong Sukabumi yang wafat pada 1869. Tanah yang dimiliki Lantenas saat itu terbilang sangat luas, yakni mulai dari Jalan Plesiran sampai Gandok (Jalan Siliwangi) Bandung. Lahan pemandian Cihampelas dan pabrik daging yang sekarang telah berubah menjadi pusat belanja Cihampelas Walk pun termasuk di dalam tanah milik Lantenas. Janda kaya ini wafat pada 1921, tepat pada usia 80 tahun.

Tajug yang sudah berdiri lebih dari 140 tahun itu pertama kali dipugar menjadi masjid pada tahun 1933, hampir bersamaan saat Wolf Schumaker memugar Masjid Kaum Cipaganti. Bedanya, Mungsolkanas dipugar atas biaya dan inisiatif ulama kharismatik, yaitu Mama Aden alias R. Suradimadja alias Abdurohim, yang juga keluarga Lantenas.  Sedangkan Mesjid Kaum Cipaganti dibiayai oleh pemerintah kolonial Belanda. Nama Mungsolkanas diberikan juga oleh Mama Aden alias R. Suradimadja alias Abdurohim, yang juga keluarga Lantenas. Dari data yang dihimpun Tribun Jabar diketahui bahwa pemugaran berikutnya pada tahun 1953, 2003 dan 2009.

Keberadaan Masjid Mungsolkanas sebagai salah satu situs sejarah Kota Bandung perlu mendapat perhatian. Jangan sampai nasibnya seperti pemandian Cihampelas yang hanya tinggal kenangan terlindas pembangunan pusat perbelanjaan Cihampelas Walk (Ciwalk). Padahal keberadaan pemandian Cihampelas bisa masuk salah satu cagar budaya yang sudah ada sejak zaman Belanda.
Pembangunan ekonomi harus terus berjalan, tetapi kesadaran akan peninggalan sejarah dan spiritual harus terus dikembangkan. Satu tantangan tersendiri bagi pemerintah dan umat Islam untuk terus menjaga eksistensi Masjid Mungsolkanas jangan sampai tergerus oleh hiruk-pikuk perkembangan zaman. Kuncinya ada dalam hati setiap umat Islam dan pemerintah yang cinta akan rumah Allah. Semoga!

Sumber Bacaan:



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KOLOM kOMENTAR

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.