| Penulis : Kasan Mulyono, Mantan wartawan. Mantan humas. Sekarang menggeluti CSR. | |
| Ya, Perang Iraq memang demi minyak, dan perang ini ada pemenangnya: Perusahaan Minyak Besar. Demikian laporan CNN pekan ini dalam memeringati 10 tahun Perang Iraq yang dipimpin Amerika Serikat untuk mendongkel Presiden Saddam Husein dan rejimnya.
Memang perang perang telah berakhir sepuluh tahun lalu dan sebagian besar tentara AS sudah ditarik, namun bagi perusahaan minyak barat, mereka baru memulai. Pra-perang, industri minyak Iraq sepenuhnya dinasionalisasi dan tertutup, kini sepuluh tahun pascaperang, industri minyak Iraq sebagian besar dikelola swasta dan kebanyakan didominasi perusahaan asing.
Perusahaan-perusahaan minyak besar dunia telah ‘buka warung’ di Iraq: ExxonMobil, Chevron, BP dan Shell. Demikian juga perusahaan-perusahaan jasa perminyakan AS termasuk Halliburton, firma berbasis di Texas yang pernah dijalankan oleh Dick Cheney sebelum menjadi pasangan George W. Bush pada 2000. Perang merupakan satu dan satu-satunya cara bagi aksed yang telah lama diinginkan dan baru bisa dibuka. Minyak bukanlah satu-satunya tujuan Perang Iraq, namun minyak tentunya merupakan alasan utama, sebagaimana dibuktikan oleh sejumlah pejabat tinggi militer dan politik pada tahun-tahun setelah invasi berlangsung. “Tentu saja ini soal minyak; kita tidak bisa mengingkarinya,” kata Jenderal John Abizaid, mantan kepala Komando Pusat dan Operasi Militer di Iraq pada 2007. Mantan Kepala Bank Sentral AS Alan Greenspan sependapat, dalam tulisan memoarnya, “Saya sedih bahwa secara politik tidak nyaman untuk mengakui apa semua orang telah ketahui: perang Iraq utamanya adalah karena minyak. Mantan Senator yangkini jadi Menlu AS CHUCK Huggel mengatakan hal yang sama pada 2007: “Orang bilang kita tidak berperang karena minyak. Tentu saja kita berperang karena minyak.” Untuk pertama kalinya dalam 30 tahun, perusahaan-perusahaan minyak Barat tengah mencari dan menghasilkan minyak dari lapangan-lapangan minyak terbesar dunia dan meraih laba besar. Dan meskipun AS juga mempertahankan impor minyak dari Iraq, manfaatnya tidak sampai ke perekonomian atau masyarakat Iraq. Keadaan ini tercipta karena telah dirancang demikian akibat tekanan pemerintah AS dan perusahaan minyak selama satu dekade. pada 1998, Kenneth Derr, CEO Chevron saat itu, mengatakan, “Iraq memiliki cadangan minyak dan gas yang besar yang saya sangat ingin Chevron bisa mendapatkannya.” Chevron mendapatkannya sekarang. Pada 2000, perusahaan minyak besar termasuk Exxon, Chevron, BP dan Shell, menghabiskan lebih banyak uang mendukung Bush dan Cheney dibanding pilpres sebelumnya. Hanya selang sepekan masa pemerintahan Bush yang pertama, upaya mereka terbayar saat dibentuk National Energy Policy Development Group, diketuai oleh Cheney, yang dibentuk untuk menyatukan pemerintah dan perusahaan minyak untuk merancang kepentingan bersama energi masa depan. Pada Maret, gugus tugas ini mengkaji daftar dan peta keseluruhan kapasitas produksi minyak Iraq. Perencanaan untuk invasi militer pun kemudian disusun. Menteri Keuangan pertama Bush, Paul O’Neill pada 2004 mengatakan, “Pada Februari (2001), pembicaraan sudah sebagian besar tentang logistik. bukan mengapa (untuk menyerang Iraq), namun bagaimana dan berapa cepat.” Dalam laporan akhir pada Mei 2001, gugus tugas berpendapat bahwa negara-negara Timur Tengah harus didorong untuk ‘membuka sektor energi mereka bagi investasi asing.” Persis inilah yang telah dicapaindi Iraq. Beginilah mereka melakukannya. Kelompok Kerja Minyak dan Gas di bawah Proyek Masa Depan Iraq, telah bertemu mulai Februari 2002 sampai April 2003 dan menyetujui bahwa Iraq “harus dibuka bagi perusahaan-perusahaan minyak internasional secepat mungkin setelah perang.” Pada saat yang sama, perwakilan antara lain dari ExxonMobil, Chevron, ConocoPhillips dan Halliburton, bertemu dengan staf Wapres Cheney pada Januari 2003 untuk membahas rencana industri Iraq pascaperang. Satu dekade selanjutnya, eksekutif dan mantan eksekutif perusahaan minyak barat bertindak sebagai administrator bagi industri minyak Iraq dan kemudian penasehat bagi pemerintah Iraq. Sebelum perang hanya ada dua penghalang bagi perusahaan minyak barat untuk beroperasi di Iraq: Saddam Hussein dan sistem hukum negara tersebut. Invasi akan menyelesaikan penghalang pertama. Untuk mengatasi masalah kedua, penasehat di dalam dan di luar pemerintahan Bush berpendapat bahwa cukup diatasi dengan mengubah undang-undang minyak Iraq melalui koalisi pemerintah pimpinan AS di Iraq, yang mengatur negeri ini dari April 2003 sampai Juni 2004. Nmun Gedung Putih menunggu, memilih menekan pemerintah Iraq yang baru terbentuk untuk menyetujui undang-undang perminyakan mereka sendiri. Pada 2008, karena kemungkinan diterbitkannya undang-undang tersebut dan kelanjutan pendudukan militer asing semakin mengecil karena pemilunmakin mendekat di AS dan Iraq, para perusahaan minyak menempuh cara lain. Dengan mengabaikan parlemen, perusahaan-perusahaan minyak mulai menandatangani kontrak yang memberikan akses dan perlakuan yang menguntungkan di mana pemerintahan Bush ikut membantu menyusun model kontrak. Kontrak baru ini tidak memiliki tingkat kepastian yang tinggi, dan dinilainoleh para legislator Iraq bertentangan dengan undang-undang yang ada di mana kontrak industri minyak seharusnya dikendalikan, dioperasikan dan dimiliki oleh pemerintah. Nmun kontrak tersebut bisa mencapai tujuan utamanya yakni memprivatisasi sektor minyak Iraq dan membukanya bagi investor asing. Kontrak ini juga memiliki masa kerja yang cukup lama dan kepemilikan saham yang tinggi dan menghilangkan kewajiban untuk memenuhi kepentingan minyak dalam negeri, dan juga kewajiban perusahaan untuk menanamkan pendapatannya bagi perekonomian lokal ataupun mempekerjakan mayoritas tenaga lokal. Produksi minyak Iraq telah meningkat 40% dalam lima tahun terakhir namun 80% diekspor keluar negeri sementara penduduk Iraq berjuang memenuhi kebutuhan konsumsi energi dasarnya. GDP per kapita meningkat dengan signifikan namun masih berada dalam kelompok yang terendah di dunia dan jauh di bawah beberapa tetangga kaya minyak swkitarnya. Layanan dasar seperti air dan listerik masih sulit dan 25% penduduk hidup dalam kemiskinan. Janji penciptaan lapangan kerja baru terkait energi belum terwujud. Sektor minyak dan gas saat ini hanya menyerap kurang dari 2% lapangan kerja langsung karena perusahaan asing sangat tergantung pada pekerja dari luar. Dalam dua minggu terakhir, lebih dari 1.000 orang berunjukrasa di lapangan minyak ExxonMobil dan Lukoil Russia menuntut pekerjaan dan pembayaran untuk tanah perorangan yang telah hilang atau rusak oleh operasi minyak mereka. Militer Iraq dikerahkan untuk menanggapinya. Sementara di kantor pusat Chevron di Houston pada 2010, seorang mantan perwira intelejen militer tentara AS, Thomas Buonomo, anggota Iraq Veterans Against the War, mengangkat sebuah plakat berbunyi, “Untuk Chevron: Terima kasih telah menodai pengabdian kami.” Ya, Perang Iraq adalah untuk minyak, dan ada yang dikalahkan: rakyat Iraq dan mereka yang telah menumpahkan darah dan kehilangan nyawa sedemikian besar sehingga Perusahaan Beaar bisa masuk. Sumber :kompasiana.com | |
Selasa, 11 Maret 2014
Ternyata Perang Iraq Memang Demi Minyak
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
- NARASI DIBALIK JULUKAN SETIAP BENUA
- ANEKA CERITA RAKYAT DARI GARUT
- Tinjauan Singkat Tentang Teori Kritis
- Seri Sejarah Australia : Motif Pembentukan Koloni Inggris di NSW
- Peningkatan Profesionalisme Guru Melalui Revitalisasi KKG dan MGMP
- Belajar IPS di Situs Prasejarah Liang Bangkai Kabupaten Tanah Bumbu
- MENGAJAR IPS MENYENANGKAN DENGAN PRAKTIKUM SEDERHANA Oleh : Riswan Wahyuni, SPd (Guru IPS SMPN 3 Angsana Kab. Tanah Bumbu) Kondisi sekarang ini,pembelajaran tatap muka sudah dilakukan di setiap sekolah.baik PTM terbatas atau keselurahan tatap muka, apa yang harus dilakukan guru pada saat masa transisi dari pembelajaran daring ke pembelajaran normal. lalu bagaimana cara guru dapat menyajikan pembelajaran harus menarik dan peserta didik aktif dalam belajar? Pembelajaran IPS yang kita ketahui bersama juga tidak luput dari kecenderungan proses pembelajaran teacher centered. Kondisi demikian tentu membuat proses pembelajaran hanya dikuasai guru.materi yang disajikan dengan pola ceramah dan pemberian tugas tugas hingga membuat siswa jenuh dan bosan.apalagi pembelajaran IPS khususnya materi yang perlu pemahaman konsep. Serta kurangnya pengoptimalan/penggunaan media pembelajaran IPS.dampaknya siswa kurang minat/motivasi terhadap materi yang disampaikan. Salah satu suasana yang mestinya tercipta dalam proses pembelajaran adalah bagaimana siswa siswa yang belajar benar benar berperan aktif dalam belajar. Salah satu aspek yang sangat mempengaruhi adalah bagaimana cara atau strategi seorang guru dalam melaksanakan proses pembelajaran agar meningkatkan partisipasi peserta didik dalam pembelajaran IPS. Kali ini pada mata pelajaran IPS di kelas VII yang saya ampu membahas tentang "memahami pergerakan angin ". Metode pembelajaran yang digunakan adalah praktik membuat penunjuk arah mata angin sederhana ,kegiatan praktik ini dipersiapkan dengan alat dan bahan sederhana yang mudah di dapat. Alat penunjuk arah mata angin sederhana ini berguna untuk mengetahui perubahan angin muson. Jika angin berhembus dari barat berarti angin muson barat, sebaliknya jika angin berhembus dari timur maka dikatan sebagai angin muson timur. Sebagaimana yang sudah saya tulis di awal, mengemas metode praktikum ini dalam pembelajaran IPS adalah bertujuan agar pembelajaran IPS lebih menarik,menyenangkan ,menarik minat dan seluruh peserta didik terlibat aktif. Menurut Sudirman (1992:163) metode praktikum adalah cara penyajian pelajaran kepada siswa untuk melakukan percobaan dengan mengalami dan membuktikan sesuatu yang dipelajari. Tahap awal pelaksanaanya praktik ini dengan memberikan arahan kepada peserta didik pada pertemuan sebelumnya untuk menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan untuk kegiatan praktik berupa : gunting,sedotan plastic,kertas tebal,penggaris,lem kertas,gelas plastik,pasir/kerikil,pensil yang ada penghapus di atasnya,jarum kecil,gambar arah mata angin/kompas.Karena di dalam satu kelas peserta didik hanya sedikit , Cuma ada 7 siswa, maka setiap siswa membuat satu alat petunjuk arah mata angin. Selanjutnya setelah semua bahan sudah siap dan setiap siswa sudah menempati posisinya masing - masing.selanjutnya guru mengarahkan dan memperagakan ,kemudian di ikuti para siswa mempraktikkan pembuatan petunjuk arah mata angin. Di modul PJJ IPS kelas VII semester ganjil (2020),langkah langkahnya sebagai berikut : langkah pertama adalah membuat keratan pada kedua ujung sedotan, setiap siswa menyiapkan sedotan plastik yang lurus, lalu gunakan gunting untuk membuat keratan di kedua ujungnya. Panjang tiap keratan kira- kira 1 cm. Selanjutnya langkah kedua setiap siswa membuat segitiga dan kotak dari kertas yang tebal,buat segitiga itu seperti panah dan segitiga sama sisi dan lebih kecil dari kotak,buat segitiga yang tingginya 5 cm dan kotak berukuran 7x7dengan penggaris Langkah ketiga yaitu memasang kedua potongan kertas tadi pada keratan di sedotan,Segitiga itu bisa dipasangkan sehingga menyerupai ujung anak panah, sementara kotak pada ujung lawannya. Agar kedua potongan bisa terpasang dengan baik, gunakan lem kertas pada sedotan lalu biarkan di atas alas kertas hingga lem kering. Langkah keempat,Siapkan wadah berisi kerikil,Siapkan wadah es krim, gelas plastik, atau wadah plastik kecil apa pun yang sudah tak terpakai. Isi setengah wadah tersebut dengan kerikil, pasir, atau sejenisnya yang bisa menahan agar penunjuk arah mata angin tetap tegak. Langkah kelima,Buat tutup untuk wadah,Kalau wadah itu sudah ada tutupnya, pakaikan tutup tersebut. Kalau tak ada tutup, buat tutup dari piring kertas atau kardus yang dilem di atas wadah. Tunggu hingga lem kering dan tutup itu sudah benar-benar terpasang sebelum melanjutkan. Langkah keenam,Tusukkan pensil menembus sisi bawah wadah,Siapkan pensil yang atasnya ada penghapus karet. Balikkan wadah tadi dan buat lubang di sisi bawahnya,Tancap ujung tajam pensil (ujung yang untuk menulis) ke lubang hingga terbenam dalam kerikil/pasir dan bisa berdiri Langkah ketujuh ,Tusukkan jarum sehingga sedotan terpasang pada ujung penghapus pensil Siapkan jarum atau paku payung. Tusuk jarum menembus tengah-tengah sedotan lalu tusuk ke ujung penghapus pensil. Coba tiup kertas kotak pada sedotan; jika sedotan tidak berputar, coba pastikan jarum tertusuk pas di tengah sedotan; jika rubuh, coba potong kertas di sisi yang rubuh sehingga lebih kecil Langkah kedelapan,Tentukan arah mata angin coba cari tahu arah utara sebelah mana. Tuliskan “Utara” pada sisi atau atas wadah plastik yang menghadap utara. wadah dituliskan “Timur”, “Selatan”, dan “Barat” berurutan searah jarum jam selayaknya melihat arah mata angin pada peta. Terakhir ,langkah kesembilan mengamati ketika penunjuk arah mata angin berputar,masing – masing siswa membawa penunjuk arah mata angin ke luar, yakni tempat yang jauh dari tembok atau benda besar lainnya yang bisa menghalangi angin. Jika ada angin berembus, semestinya angin mendorong kertas kotak sehingga sedotan berputar dan kertas panah menunjukkan arah dari mana angin “datang”. Kalau panah menunjuk ke arah barat, maka angin itu adalah angin barat yang bertiup dari barat ke timur.hasil dari pengamatan siswa kemudian dituliskan di LKPD siswa masing – masing. Berdasarkan pengamatan saya,dalam menerapkan metode praktikum dalam pembelajaran IPS dapat lebih memotivasi peserta didik untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran.semua siswa bersemangat dan antusias.selama proses pembuatan alat praktikum semua siswa terlihat asyik, seru, senyum dan tertawa ketika melihat hasil produk alat yang dibuat oleh siswa memiliki keunikan tersendiri. Sebagai seorang guru tentu sangat senang karena pembelajaran praktik IPS yang saya laksanakan di kelas dapat diterima dengan baik dan menyenangkan bagi peserta didik.semoga kedepan saya terus termotivasi untuk tetap menerapkan cara pembelajaran yang lebih menarik dan mengasyikkan agar peserta didik semangat dalam mengikuti pelajaran IPS. Harapan kedepannya semoga saya terus termotivasi untuk tetap menerapkan strategi,metode,model pembelajaran IPS yang lebih menarik, seru,menyenangkan dan mengasyikkan agar peserta didik semangat dalam mengikuti pelajaran IPS.
- EKSOTISME SITU CISANTI DI HULU SUNGAI CITARUM
- Tantangan Generasi Muda di Pusaran Globalisasi
- Perbedaan antara model, pendekatan, strategi dan metode pembelaran
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
KOLOM kOMENTAR
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.