Senin, 30 November 2020

Hattrick

 Oleh Enang Cuhendi


Hattrick adalah istilah dalam sepakbola. Biasanya ditujukan pada keadaan ketika seorang pemain mampu mencetak gol tiga kali dalam satu pertandingan. Hattrick merupakan prestasi yang luar biasa bagi seorang pemain,  apalagi berposisi striker atau penyerang. Kalau pemain bisa hattrick di setiap pertandingan dijamin bakal jadi Top Scorer dan menjadi pemain berharga mahal. 

Bobotoh atau pendukung Persib begitu bangga dengan Cristian Bekamenga,  Sergio Van Dick atau Ezzequel Enduasell yang sering melakukan hattrick. Dunia pun selalu mengagung-agungkan sosok Leonel Messi,  Cristiano Ronaldo,  Pele atau Maradona yang sering hattrick saat bermain. 

Akan tetapi, bagaimana kalau hattrick ini dicetak di dunia korupsi?  Apakah tetap menjadi kebanggaan?  Kasus di salah satu kota di negeri ini yang berdiri selama 16 tahun dengan dipimpin oleh tiga walikota dan ketiga-tiganya tersandung korupsi adalah hal yang ironis.  "Hattrick" tiga walikota masuk bui gegara korupsi tentu bukan kebanggaan,  tetapi aib yang luar biasa.  Apalagi berasal dari warna kaos partai yang sama. Sungguh drama komedi tidak lucu dalam pentas politik negeri ini. 

Kemarin ada berita seorang menteri menyusul menteri sebelumnya ditangkap karena korupsi.  Hari ini ada berita, negeri ini masuk tiga besar negara terkorup di Asia versi Lembaga Transparansi Internasional. Ini menjadi bumbu yang semakin tidak sedap bagi perkembangan negeri ini. Raihan "medali perunggu" untuk negeri terkorup di Asia memiliki cita rasa yang sangat beda dengan medali perunggu di Asian Games. Medali perunggu di AG adalah kebanggaan, tetapi ini adalah tamparan keras yang menyakitkan atas hasil dari sebuah peristiwa yang disebut Reformasi.  Niat hati menghapus KKN (Korupsi,  Kolusi dan Nepotisme) yang ada justru KKN semakin menggila.  

Kalau ditanya apa motivasi para "pejabat yang terhormat" tersebut korupsi.  Alasannya pasti tidak akan jauh dari seputar  harta,  tahta dan renata eh wanita. Memang ketiga hal ini bisa membawa seseorang ke puncak sukses,  tapi juga bisa menghinakan orang sehina-hinanya. 

Harta,  tahta dan wanita adalah sumber motivasi.  Bisa positif kalau dimaknai positif, juga bisa negatif kalau dimaknai negatif. Banyak orang yang meraih sukses luar biasa karena dorongan tiga faktor itu,  namun tidak sedikit yang jatuh terpuruk.  Semua kembali kepada kita bagaimana memaknainya. 

Kembali ke hattrick,  akankah semua KKN yang semakin menggila ini akan mendorong munculnya "hattrick" peristiwa dalam sejarah Indonesia. Setelah rezim orde lama tumbang di 1966, orde baru runtuh di 1998, berikutnya?  Wallahuallam.


Cicalengka, akhir November 2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KOLOM kOMENTAR

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.