Kamis, 26 September 2019

GEMERLAP ALAM, KOTA GARUT


oleh Enang Cuhendi


“Hanya kepada orang yang halus perasaannya, keindahan dan rahasia alam ini dibukakan Tuhan untuknya.”
(Socrates, Filsuf Yunani 469-399 SM.)


Garut sebuah kota sejuk nan indah. Selama dua puluh dua tahun (1997-2019) penulis mengabdi sebagai guru PNS di tempat ini banyak hal menarik yang bisa ditemukan. Selain penganan dodol yang sangat terkenal, Garut juga memiliki kekayaan dan keindahan alam yang luar biasa dan lengkap.Ya, lengkap dalam arti di kabupaten penghasil domba dengan varietas terbaik ini gunung, rimba atau hutan, laut dan pantai, pesawahan, perkebunan, dataran tinggi dan rendah ada semua. Kelengkapan alam yang tidak semua kota memilikinya.

Garut merupakan bagian wilayah Provinsi Jawa Barat di bagian Selatan. Secara asronomis berada pada koordinat 6º56'49''-7º45'00'' LS dan 107º25'8''-108º7'30'' BT. Luas wilayah administratifnya sekira 306.519 hektar, dengan batas-batas di sebelah utara dengan Kabupaten Sumedang, bagian timur dengan Kabupaten Tasikmalaya, selatan Samudera Indonesia dan sebelah barat dengan Kabupaten Bandung dan Cianjur.

Ketinggian tempat Kabupaten Garut cukup bervariasi antara wilayah paling rendah yang sejajar dengan permukaan laut hingga wilayah tertinggi di puncak gunung. Karakteristik kontur atau topografinya yang terbagi dua, yaitu utara dan selatan. Sebelah utara terdiri dari dataran tinggi dan pegunungan, sedangkan bagian selatan sebagian besar dataran rendah dengan permukaannya memiliki tingkat kecuraman yang terjal dan di beberapa tempat labil. Melihat kondisi ini bisa dikatakan kontur Garut ini cenderung miring ke selatan.

Wilayah yang terletak di daratan rendah pada ketinggian kurang dari 100 mdpl (meter di atas permukaan laut) terdapat di Kecamatan Cibalong dan Pameungpeuk. Wilayah yang terletak pada ketinggian 100–500 mdpl terdapat di kecamatan Cibalong, Cisompet, Cisewu, Cikelet dan Bungbulang. Wilayah yang berada pada ketinggian 500–1.000 mdpl terdapat di Kecamatan Pakenjeng dan Pamulihan, serta wilayah yang berada pada ketinggian 1.000–1.500 mdpl terdapat di Kecamatan  Cikajang, Pakenjeng, Pamulihan, Cisurupan dan Cisewu.

Pegunungan dan gunung menjadi salah satu kekayaan Garut. Gunung Cikuray (2.821 mdpl) dan Gunung Papandayan (2.622 mdpl) di selatan Kota Garut, dan  Gunung Guntur (2.249 mdpl) di Garut Kota, rasanya sudah tidak asing lagi. Ketiga lokasi ini sudah menjadi destinasi tetap para pecinta wisata alam dan pendaki gunung. Sementara Gunung Talaga Bodas (2.101 mdpl) yang terletak di Desa Sukamenak, Kecamatan Wanaraja lebih pada wisata alam, seperti Tangkuban Perahu atau Kawah Putih, bukan untuk pendakian. Di sini terdapat kawah belerang yang menarik untuk dikunjungi.

Adapun Gunung Cakrabuana, Cilancang dan Gunung Kendang memang tidak sepopuler gunung-gunung di atas, tetapi tetap memiliki keindahan alam yang luar biasa. Gunung Cakrabuana masuk ke dalam administrasi empat kabupaten, yaitu: Garut, Sumedang, Tasikmalaya dan Majalengka. Pendakian ke gunung ini biasa dilaksanakan melalui Jalur Malangbong di Garut Utara. Adapun Gunung Cilancang secara administrasi berada di perbatasan Kabupaten Sumedang dan Kabupaten Garut. Di Kabupaten Sumedang gunung ini mencangkup Kecamatan Sumedang Selatan dan Kecamatan Cibugel. Sedangkan di Kabupaten Garut mencangkup Kecamatan Blubur Limbangan dan Kecamatan Selaawi. Gunung Cilancang ini mempunyai ketinggian 1.667 mdpl. Gunung Kendang yang merupakan gunung berapi stratovolcano  terletak di perbatasan kecamatan Kertasari, Kab. Bandung dan kecamatan Pasirwangi, Kab. Garut.

Gunung lainnya yang ada di Garut di antaranya Gunung  Haruman (1.218 mdpl) di Leuwigoong, Gunung Kaledong (1.249 mdpl) di Kadungora, Gunung Halimun (1.098 mdpl) di Pamulihan, Gunung Sadakeling (1.679 mdpl) di Cibatu, Gunung Karancang (1.563 mdpl) di Talegong dan Mandalawangi (1.663 mdpl) di Leles-Kadungora. Masih banyak gunung lainnya yang ada di Garut Wilayah rimba atau hutan di Garut cukup banyak. Hampir setiap gunung memiliki area rimba raya. Satu hutan yang paling terkenal adalah Hutan Sancang atau Leuweung Sancang. Hutan alami seluas 2.157 hektar ini merupakan wilayah konservasi berstatus cagar alam yang berada di Kecamatan Cibalong. Hutan ini sangat fenomenal  dan bernilai historis.

Di Jawa Barat selain berfungsi sebagai penyangga utama lingkungan, hutan juga menjadi sumber cerita rakyat yang tercatat dalam kepercayaan lokal, babasan atau peribahasa, juga dikenal memiliki nilai historis. Demikian juga dengan Leuweung Sancang. Banyak kisah mitos yang menghinggapinya, di antaranya menganggap Sancang sebagai tempat nga-hyang (menghilang) Prabu Siliwangi, raja besar Kerajaan Sunda.

Dari sisi sumber daya hayati, Sancang miliki potensi keanekaragaman hayati yang luar biasa. Sancang menjadi hunian terakhir kayu meranti merah jawa dan kaboa. Selain itu kerterjagaan plasma nutfah dan ekosistemnya mulai padang lamun, terumbu karang, hingga mangrove juga memperkaya hayati Sancang.

Hingga pertengahan 1980-an, Sancang sebagai hutan tutupan cagar alam bisa dikatakan masih perawan. Sayangnya seiring dengan penyerobotan dan pembalakan liar pasca bergulirnya reformasi dan terjadinya penyempitan akibat sebagian arealnya terkena dampak pembangunan jalur Jalan Lintas Selatan, hutan Sancang mengalami degradasi hebat. Kerusakan terjadi di beberapa titik.

Panorama keindahan alam Garut lainnya adalah laut dan pantai. Wilayah laut terutama terdapat di Garut Selatan yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia. Karena berhadapan dengan laut maka Garut juga memiliki garis pantai. Banyak pantai indah di Garut. Pantai Santolo, pantai indah berpasir putih, yang terletak di Desa Pamalayan, Kecamatan Cikelet, merupakan salah satunya. Lokasi Santolo sekira 88 kilometer dari Alun-alun Kota Garut, atau dengan waktu tempuh sekira 3 jam perjalanan.

Pantai berikutnya adalah Sayangheulang yang letaknya dekat dengan Pantai Santolo. Berada di Desa Mancagahar, Kecamatan Pamengpeuk. Jarak tempuh dari tengah Kota Garut sekira 86 kilometer.
Pantai-pantai lainnya adalah Karang Paranje (Cibalong), Rancabuaya (Bungbulang), Cicalobak (Mekarmukti), Karangtepas (Mekarmukti), Pantai Cidora (Caringin), Karang Papak (Pameungpeuk), Karangsebrotan (Mekarmukti), Cijeruk Indah (Pameungpeuk), Sodong Bodas (Caringin), Sancang (Cibalong), Sodonglalai (Mekarmukti), Citanggeuleuk (Mekarmukti), dan Pantai Taman Manalusu (Cikelet) merupakan deretan pantai yang indah yang belum banyak dikunjungi wisatawan.

Selain memiliki pantai-pantai yang indah, Garut juga memiliki banyak curug atau air terjun yang tidak kalah cantik dan indah. Di antara air terjun tersebut, yaitu: Curug Cihanyar (Cilawu), Curug Orok (Cikajang), Curug Sanghiyang Taraje (Pakenjeng), Curug Nyongnyong (Cihurip), Curug Ciharus (Leles), Curug Cibadak, Curug Rahong. Curug Citiis (Gunung Guntur), Curug Cimandi Racun dan Curug Sanghyang Taraje (Pamulihan) merupakan sedikit di antara sekian banyak curug yang ada di Garut.

Objek wisata lain yang tidak kalah menarik adalah situ atau danau. Situ Bagendit di Kecamatan Banyuresmi dan Situ Cangkuang di Kecamatan Leles merupakan dua dari contoh situ yang terkenal di Garut. Situ yang lainnya adalah Cikabuyutan. Situ ini terletak di perbatasan Kecamatan Pakenjeng dan Bungbulang, tepatnya di antara Desa Pasirlangu di Pakenjeng dan desa Bojong di Bungbulang.
Wilayah Kabupaten Garut juga memiliki aliran sungai. Di Garut terdapat 36 buah sungai dan 112 anak sungai. Panjang seluruhnya 1.403,35 km yang sepanjang 92 km di antaranya merupakan aliran Sungai Cimanuk dengan 60 buah anak sungai.

Sebagaimana konturnya, daerah Aliran Sungai (DAS) di Garut dibagi menjadi dua,  yaitu: Daerah Aliran Utara yang bermuara di Laut Jawa dan Daerah Aliran Selatan yang bermuara di Samudera Indonesia. Daerah aliran selatan pada umumnya relatif pendek, sempit dan berlembah-lembah dibandingkan dengan daerah aliran utara. Daerah aliran utara merupakan DAS Cimanuk Bagian Utara, sedangkan daerah aliran selatan merupakan DAS Cikaengan dan Sungai Cilaki.

Seni dan Budaya Garut sudah sejak dulu berkembang pesat. Aneka kreasi seni dan budaya tradisional Garut hampir ada merata disemua wilayah. Aneka warisan budaya tak benda, seperti cerita rakyat dan legenda hampir ada di setiap kota kecamatan.

Berdasarkan fakta-fakta yang diungkap di atas jelas sekali bahwa alam Garut sangat gemerlap. Gemerlap alam Garut membuat kota ini layak menyanding julukan Kota GURILAPS. Bukan hanya gurilap seperi yang ada dalam bahasa Sunda yang artinya gemerlap, tapi juga gurilaps yang merupakan akronim dari  yaitu kota yang kaya dengan GUnung, RImba, LAut, Pantai, dan Sungai serta Seni budaya apabila “S” ditambah satu.  Sungguh potensi luar biasa yang Allah SWT. anugerahkan untuk Kabupaten Garut. Permasalahannya tinggal bagaimana kita mensyukuri, memelihara dan memanfaatkan semua potensi ini. 

Sumber Bacaan
Darpan dan Budi Suhardiman, 2017, Budaya Garut, Serta Pernak Perniknya, Garut, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan.
Tim Kreatif, 2015, Pemetaan Warisan Budaya Tak Benda Kabupaten Garut, Garut,  Dinas Pariwisata dan Kebudayaan.
 Donny Iqbal, (2018), “Leuweung Sancang Diujung Kenangan, Perbaikan Lingkungan Harus Dilakukan”,  13 August 2018,


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KOLOM kOMENTAR

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.